
NUDITY: A CULTURAL ANATOMY
By Ruth Barcan
© Berg 2004
308 Pages
Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang….QS. Thaahaa: 118
Beberapa bulan ke depan tampaknya akan ramai diperdebatkan mengenai UU Anti Pornografi yang akan segera disahkan. Buku berikut ini memang tidak berbicara mengenai apa itu pornografi, tapi buku ini malah berbicara mengenai hal yang lebih esensial berkaitan dengan masalah pornografi, yaitu tentang telanjang.
Sebuah kisah satir tentang pakaian dan ketelanjangan adalah karya Anatole France, “Penguin Island” (http://www.gutenberg.org/files/1930/1930-h.zip) yang berkisah sekelompok penguin yang dibaptis oleh seorang pastor pandir. Penguin-penguin tersebut karena telah masuk dalam agama Ibrahim, akhirnya diwajibkan untuk berpakaian. Kisah selanjutnya adalah para penguin justru kehilangan sifat-sifat baiknya. Pakaian yang mereka gunakan menjadi simbol dari status sosial, sumber kejahatan dan terakhir sumber dari peperangan. Kisah tersebut menggambarkan bahwa pakaian adalah kemunafikan pertama manusia, yang kemudian diikuti dengan hal-hal jelek lainnya seperti rakus hingga perang. Cerita tersebut juga menggambarkan pakaian sebagai bentuk dari alienasi dari ketidaksadaran primordial, dalam arti para “penguin” akhirnya membuat perbedaan antara yang satu dengan lainnya.
Manusia aslinya memang ditakdirkan untuk telanjang. Pada perkembangan kebudayaan berikutnya ada keharusan baginya untuk berpakaaian. Keharusan ini berkaitan juga dengan fungsi dari pakaian itu sendiri. Larrisa Bonfante mencatat ada lima fungsi dari pakaian yang digunakan manusia: 1. perlindungan thd lingkungan sekitar; 2. alat untuk membedakan dengan kelompok atau kelas lain; 3. mencegah malu ; 4. sumber dari kesenangan estetik (misal untuk keindahan atau menarik lawan jenis); 5. fungsi apotropaic (menghindari pengaruh sihir, magic dsb).
Secara etimologi sebenarnya kata telanjang tidak ada kaitannya dengan sex. Dalam buku ini diperlihatkan baik kata “naked” dan “nude” tidak kaitannya secara asal usul istilah dengan sex. Tp masyarakat telah terlanjur mengasosiasikan telanjang dengan sex. Dan memang secara teknis sebenarnya manusia tidak harus telanjang dalam berhubungan sex. Oleh karena itu pengasosiasian tersebut oleh Barcan dianggap sebagai fenomena (halaman 3). Meski demikian memang tetap saja ada saluran yang menghubungkan antara keduanya. Misalnya saja dalam budaya konsumer (yaitu film-film porno) ketelanjangan adalah “sign” dari sex.
Dalam kebudayaan barat sendiri terdapat sikap ambigu terhadap ketelanjangan. Disalah satu sisi ketelanjangan dianggap sebagai sifat dari alamiah manusia, tapi disatu sisi dianggap sebagai tidak pantas. Hal ini karena barat mewarisi dua tradisi yang saling bertolak belakang. Disalah satu sisi ada tradisi Yunani yang menganggap ketelanjangan adalah alamiah (bisa diliat pada patung-patung Yunani kuno) dan tradisi Yahudi pada agama kristen, dimana ketelanjangan dianggap sebagai tidak pantas. Ini sama halnya sikap barat terhadap rambut kemaluan. Dimana disatu sisi dianggap sebagai proteksi dari ketelanjangan dan disisi lain dianggap sebagai bukti dari ketelanjangan yang cabul. Salah satu informan yang diwawancarai dalam buku ini dan berprofesi sebagai model erotis fotografi, mengatakan ketika ia mencukur bulu kemaluannya sang fotografer menolaknya karena akan membuat foto yang dia buat menjadi karya pornografi.
Meski demikian bulu kemaluan sendiri dianggap sebagai kecabulan terutama bagi perempuan. Dalam kehidupan estetik Yunani Kuno, baik dalam keseharian maupun dalam seni, menghilangkan rambut kemaluan adalah keharusan. Pada jaman Victoria bahkan terhadap regulasi hukum yang mengasosiasikan rambut kemaluan dengan kecabulan. Pada saat ini dimana budaya massa demikian berperan dalam mengatur perilaku seseorang, di barat terdapat praktek bagi perempuan untuk memangkas rambut kemaluan hingga menyerupai garis panjang. Hal ini dikarenakan tuntutan pasangan pria mereka yang menghendaki agar mereka bisa mirip dengan bintang-bintang majalah playboy. Hal ini dikarenakan bintang-bintang dalam majalah Playboy telah menjadi obyek fantasi seksual bagi banyak laki-laki.
Trimming like this….
Trimming like this….
Buku ini terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama terdiri dari 2 bab, yaitu Bab 1 dan 2. Bagian ini secara luas membandingkan berbagai studi mengenai ketelanjangan dalam tradisi filsafat barat. Bab 1 memberi fokus pada dialektika antara pakaian dan ketelanjangan. Bab 2 mengenai nilai positif dan negatif ketelanjangan sebagai metafor, suatu paradox yang membuatnya tidak stabil dan sebab itu menjadikan ketelanjangan sebagai ide budaya yang kuat. Bagian kedua dari buku ini memfokuskan pada tipe-tipe atau mode kemanusiaan dan hubungannya dengan kategori identitas. Bab 3 memfokuskan pada peran ketelanjangan dalam membangun ide sekelompok orang sebagai liar, menyimpang dsb. Bab 4 memfokuskan pada peran ketelanjangan dalam budaya konsumer aatau massa pada saat ini.
Buku ini sangat menantang dalam memberi pemahaman kita atas apa itu ketelanjangan. Bila dikaitkan dengan sikap ambigu barat terhadap ketelanjangan, masyarakat kita memiliki problem yang sama. Dalam banyak tradisi lokal, ketelanjangan, seperti di Papua, suku Kubu, beberapa suku Dayak akan dianggap sebagai tidak pantas oleh agama-agama besar di Indonesia.Maka dari itu akhirnya tidak heran juga jika nantinya UU Anti Pornografi akan mendapat banyak tentangan. Tentangan itu sendiri adalah refleksi dari sifat ambigu dari ketelanjangan itu sendiri.
Ditulis oleh sosantro
Minggu kedua Bulan Pebruari 2009. kru Labdik Sosantro disibukkan dengan acara kemas-kemas buku, komputer, dan dokumen penting lainnya, serta memberi label pada barang inventaris . Hari Rabu 18 Pebruari 2009, dengan angkutan truk Laboratorium Sosiologi-Antropologi (Sosantro) resmi pindah ruang sekaligus pindah kantor. Setelah lebih dari 10 tahun menempati Lantai III Gedung Anggrek di P4TK PKn dan IPS Malang, Jalan Veteran 9 Malang, kini labdik Sosantro menempati pos barunya di Gedung Laboratorium (mungkin juga nanti tetap dinamai Gedung Anggrek) Lantai II di Jl. Raya Arhanud, Desa Pendem, Kec. Junrejo Kota Batu, sekitar 11 km dari kantor lama.







Di bulan Januari 2009, Labdik Sosiologi-Antropologi PPPPTK PKn dan IPS Malang membuat usulan rencana strategik (renstra) untuk periode tahun 2010-2014. Berbagai agenda kegiatan telah disiapkan, yaitu: 1) Seleksi dan TNA Calon Peserta Diklat Berjenjang; 2) Diklat Berjenjang Guru Sosiologi dan Antropologi SMA (Jenjang Dasar, Jenjang Lanjut, Jenjang Menengah, dan Jenjang Tinggi); 3) Monitoring dan Evaluasi Dampak Diklat; 4) Penyusunan dan Revisi Silabus Diklat Guru Sosiologi dan Antropologi (MGMP, Diklat Berjenjang, Diklat Pengembangan Model Pembelajaran, Diklat Penyusunan Instrumen Penilaian); 5) Penulisan Bahan Ajar; 6) Produksi VCD Pembelajaran; 7) Produksi CD Interaktif; 8. Workshop (Workshop Widyaiswara,
B
T
I
Di awal tahun 2009 ini Laboratorium Pendidikan Sosiologi dan Antropologi PPPPTK PKn dan IPS Malang merilis blog. Wahana ini nantinya akan berisi program-program labdik, berita labdik, berita sosiologi dan antropologi, info diklat, serta pernak-pernik tentang catatan sosiologi dan antropologi.