Tentang Ketelanjangan

April 4, 2009

nudity11

NUDITY: A CULTURAL ANATOMY

By Ruth Barcan

© Berg 2004

308 Pages

Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang….QS. Thaahaa: 118

Beberapa bulan ke depan tampaknya akan ramai diperdebatkan mengenai UU Anti Pornografi yang akan segera disahkan. Buku berikut ini memang tidak berbicara mengenai apa itu pornografi, tapi buku ini malah berbicara mengenai hal yang lebih esensial berkaitan dengan masalah pornografi, yaitu tentang telanjang.

Sebuah kisah satir tentang pakaian dan ketelanjangan adalah karya Anatole France, “Penguin Island” (http://www.gutenberg.org/files/1930/1930-h.zip) yang berkisah sekelompok penguin yang dibaptis oleh seorang pastor pandir. Penguin-penguin tersebut karena telah masuk dalam agama Ibrahim, akhirnya diwajibkan untuk berpakaian. Kisah selanjutnya adalah para penguin justru kehilangan sifat-sifat baiknya. Pakaian yang mereka gunakan menjadi simbol dari status sosial, sumber kejahatan dan terakhir sumber dari peperangan. Kisah tersebut menggambarkan bahwa pakaian adalah kemunafikan pertama manusia, yang kemudian diikuti dengan hal-hal jelek lainnya seperti rakus hingga perang. Cerita tersebut juga menggambarkan pakaian sebagai bentuk dari alienasi dari ketidaksadaran primordial, dalam arti para “penguin” akhirnya membuat perbedaan antara yang satu dengan lainnya.

Manusia aslinya memang ditakdirkan untuk telanjang. Pada perkembangan kebudayaan berikutnya ada keharusan baginya untuk berpakaaian. Keharusan ini berkaitan juga dengan fungsi dari pakaian itu sendiri. Larrisa Bonfante mencatat ada lima fungsi dari pakaian yang digunakan manusia: 1. perlindungan thd lingkungan sekitar; 2. alat untuk membedakan dengan kelompok atau kelas lain; 3. mencegah malu ; 4. sumber dari kesenangan estetik (misal untuk keindahan atau menarik lawan jenis); 5. fungsi apotropaic (menghindari pengaruh sihir, magic dsb).

Secara etimologi sebenarnya kata telanjang tidak ada kaitannya dengan sex. Dalam buku ini diperlihatkan baik kata “naked” dan “nude” tidak kaitannya secara asal usul istilah dengan sex. Tp masyarakat telah terlanjur mengasosiasikan telanjang dengan sex. Dan memang secara teknis sebenarnya manusia tidak harus telanjang dalam berhubungan sex. Oleh karena itu pengasosiasian tersebut oleh Barcan dianggap sebagai fenomena (halaman 3). Meski demikian memang tetap saja ada saluran yang menghubungkan antara keduanya. Misalnya saja dalam budaya konsumer (yaitu film-film porno) ketelanjangan adalah “sign” dari sex.

Dalam kebudayaan barat sendiri terdapat sikap ambigu terhadap ketelanjangan. Disalah satu sisi ketelanjangan dianggap sebagai sifat dari alamiah manusia, tapi disatu sisi dianggap sebagai tidak pantas. Hal ini karena barat mewarisi dua tradisi yang saling bertolak belakang. Disalah satu sisi ada tradisi Yunani yang menganggap ketelanjangan adalah alamiah (bisa diliat pada patung-patung Yunani kuno) dan tradisi Yahudi pada agama kristen, dimana ketelanjangan dianggap sebagai tidak pantas. Ini sama halnya sikap barat terhadap rambut kemaluan. Dimana disatu sisi dianggap sebagai proteksi dari ketelanjangan dan disisi lain dianggap sebagai bukti dari ketelanjangan yang cabul. Salah satu informan yang diwawancarai dalam buku ini dan berprofesi sebagai model erotis fotografi, mengatakan ketika ia mencukur bulu kemaluannya sang fotografer menolaknya karena akan membuat foto yang dia buat menjadi karya pornografi.

Meski demikian bulu kemaluan sendiri dianggap sebagai kecabulan terutama bagi perempuan. Dalam kehidupan estetik Yunani Kuno, baik dalam keseharian maupun dalam seni, menghilangkan rambut kemaluan adalah keharusan. Pada jaman Victoria bahkan terhadap regulasi hukum yang mengasosiasikan rambut kemaluan dengan kecabulan. Pada saat ini dimana budaya massa demikian berperan dalam mengatur perilaku seseorang, di barat terdapat praktek bagi perempuan untuk memangkas rambut kemaluan hingga menyerupai garis panjang. Hal ini dikarenakan tuntutan pasangan pria mereka yang menghendaki agar mereka bisa mirip dengan bintang-bintang majalah playboy. Hal ini dikarenakan bintang-bintang dalam majalah Playboy telah menjadi obyek fantasi seksual bagi banyak laki-laki.

Trimming like this….

Trimming like this….

Buku ini terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama terdiri dari 2 bab, yaitu Bab 1 dan 2. Bagian ini secara luas membandingkan berbagai studi mengenai ketelanjangan dalam tradisi filsafat barat. Bab 1 memberi fokus pada dialektika antara pakaian dan ketelanjangan. Bab 2 mengenai nilai positif dan negatif ketelanjangan sebagai metafor, suatu paradox yang membuatnya tidak stabil dan sebab itu menjadikan ketelanjangan sebagai ide budaya yang kuat. Bagian kedua dari buku ini memfokuskan pada tipe-tipe atau mode kemanusiaan dan hubungannya dengan kategori identitas. Bab 3 memfokuskan pada peran ketelanjangan dalam membangun ide sekelompok orang sebagai liar, menyimpang dsb. Bab 4 memfokuskan pada peran ketelanjangan dalam budaya konsumer aatau massa pada saat ini.

Buku ini sangat menantang dalam memberi pemahaman kita atas apa itu ketelanjangan. Bila dikaitkan dengan sikap ambigu barat terhadap ketelanjangan, masyarakat kita memiliki problem yang sama. Dalam banyak tradisi lokal, ketelanjangan, seperti di Papua, suku Kubu, beberapa suku Dayak akan dianggap sebagai tidak pantas oleh agama-agama besar di Indonesia.Maka dari itu akhirnya tidak heran juga jika nantinya UU Anti Pornografi akan mendapat banyak tentangan. Tentangan itu sendiri adalah refleksi dari sifat ambigu dari ketelanjangan itu sendiri.


Pindah Markas

Februari 19, 2009

img_0089Minggu kedua Bulan Pebruari 2009. kru Labdik Sosantro disibukkan dengan acara kemas-kemas buku, komputer, dan dokumen penting lainnya, serta memberi label pada barang inventaris . Hari Rabu 18 Pebruari 2009, dengan angkutan truk Laboratorium Sosiologi-Antropologi (Sosantro) resmi pindah ruang sekaligus pindah kantor. Setelah lebih dari 10 tahun menempati Lantai III Gedung Anggrek di P4TK PKn dan IPS Malang, Jalan Veteran 9 Malang, kini labdik Sosantro menempati pos barunya di Gedung Laboratorium (mungkin juga nanti tetap dinamai Gedung Anggrek) Lantai II di Jl. Raya Arhanud, Desa Pendem, Kec. Junrejo Kota Batu, sekitar 11 km dari kantor lama.

Di tempat yang baru, Labdik Sosantro dipecah sesuai karakteristik Bidang Studi yakni Sosiologi dan Antropologi , dan menempati 2 ruang berdampingan dengan Laboratorium Komputer. Sementara Labdik lainnya: Labdik IPS, Geografi, Ekonomi, PKn, dan Sejarah menempati lantai I.


TUGAS ETNOGRAFI UNTUK SMA

Februari 4, 2009

Ketika mengunjungi sebuah SMA untuk pembuatan VCD pembelajaran Antropologi, guru yang mengampu pelajaran tersebut bertanya kepada saya, bagaimana memberi tugas antropologi kepada siswa. Pertanyaan tersebut sangat menantang karena berkaitan dengan memperkenalkan antropologi yang merupakan studi tingkat universitas kepada siswa SMA. Bayangan orang terhadap antropologi adalah selalu terkait dengan masa lampau, suku terasing yang jauh dari mana-mana. Padahal itu adalah sisi romantik dari antropologi. Antropologi telah berkembang jauh. Tidak lagi berkubang pada masa lalu, tapi pada masa kini. Berikut disajikan contoh terkait dengan pemberian tugas antropologi untuk siswa SMA. Naskah asli ini dalam bahasa inggris (bisa diambil di http://www.esnips.com/doc/61b11829-2397-40b1-a810-352c8f7fabfa/McDonalds-Ethnography).

ETNOGRAFI MCDONALD

KEPADA: NGNMO SZQUEL, KOMANDAN PENJELAJAH BINTANG X

DARI: IAN CINNAMON, AGEN LAPANGAN

SUBYEK: Studi on-going musuh kita

STATUS MISI: TERLAKSANA

Saat ini saya telah menyelesaikan ekspedisi terhadap planet yang disebut sebagai “bumi”. Saya mengunjungi sebuah fasilitas makan yang diberi nama “McDonald”. Studi saya mengenai makhluk bumi berkaitan dengan persiapan untuk invasi. Saya harapkan invasi kita akan sukses dikarenakan sifat lemah dari manusia – meskipun manusia tahu betapa buruk makanan yang mereka makan bagi kesehatan (gambar 1) mereka tetap saja memakannya.

Laporan ini terbagi dalam 8 bagian : makanan, nilai, gender/usia/pembagian kerja/status dan peran,keluarga, penggunaan ruang, hubungan pegawai/pengunjung,kelas sosial, dan bahasa

MAKANAN. Fasilitas makan ini menyediakan tiga jenis makanan. Antara lain: daging sapi goreng yang ditaruh diatas 2 iris roti (alias hamburger), kentang goreng (alias french fries), beberapa irisan dagi ayam dalam sebuah roti (alias sandwich). Anehnya, manusia berbondong-bondong mengantri makanan tanpa nutrisi ini. Tempat yang dikunjungi dalam laporan ini menhabiskan seribu hamburger setiap hari. Dengan maksud melayani banyak manusia yang lapar, manajemen menginginkan agar kerumunan ini tetap bergerak. Untuk itu mereka memiliki jendela “drive thru” (gambar 2) dan hamburger setengah jadi.

NILAI. “McDonald’s” ingin agar para pelanggannya merasa gembira dan ikut terlibat. Mereka memberi daya tarik pada apa yang mereka lihat sebagai nilai-nilai pelanggan. Kata –kata kunci sering digunakan dalam iklan dan brosur diseluruh bagian restoran ada. “Gembira”, “Senyum”,”Segar”, “Komunitas Kita”, “Komitmen Kami”, mengitari para pengunjung yang lapar. Kata “Komunitas” membuat para pengunjung berpikir McDonal’s pduli terhadap mereka. Beberapa nilai yang lain kebersihan, kualitas, dan servis.”McDonal’s” mendukung beberapa kegiatan amal – seperti rumah Ronal McDonald bagi anak sakit dan yang membutuhkan. Bagaimanapun, kesan yang saya tangkap terhadap apa yang memotivasi manusia datang ke McDonald’s adalah makanan murah untuk mengisi perut yang lapar.

GENDER/USIA/PEMBAGIAN KERJA. Hanya ada dua pegawai pria dan delapan pegawai wanita, semuanya berusia 30 – 40 tahun. (populasi yang tua ini mungkin berkaitan dengan jam kedatangan saya yaitu jam 8 pada malam minggu). Ada enam jenis pekerjaan yaitu, kasir, pembungkus makanan, pembuat makanan, penunggu drive thru,gadis pembersih. Keempat manajer tidak memiliki banyak tanggung jawab. Ketika ditanya jika ada pesta, mereka menjawab,”kamu bisa bertanya pada pemilik.” Pengunjung bisa laki-laki maupun perempuan. Usia bisa berbeda-beda. Bisa remaja, anak-anak (7 s/d 12 tahun) dengan orang tua mereka (30 s/d 40 tahun), beberapa oarng yang berusia 30 s/d 40 tahun dan orang tua yang tampaknya kurang waras yang berbicara pada dirinya sendiri (berusia kurang lebih 70 s/d 80 tahun) (gambar 3).

KELUARGA. Banyak pengunjung yang datang ke McDonald’s bersama keluarga. Satu keluarga rata-rata berisi tiga sampai 4 orang. Kebanyakan keluarga hanya datang bersama ibu bersama anak-anaknya, tanpa ayah. Keluarga tanpa gembira dan saling berbicara satu sama lain. Anak-anak mempengaruhi perilaku orang tua oleh karena itu sangat mengotrol dalam lingkingan ini. Beberapa diantara terlihat mengantri makanan dan membayar makanan dengan uang yang diberikan oleh orang tua mereka. “McDonald’s” bisa disebut sebagai “ramah anak”. Terdapat makanan khusus anak dengan mainan (sebagai alat manipulasi) dan arena bermain yang sangat mengundang dan menyenangkan.

PENGGUNAAN RUANG. Sangat jelas “McDonald’s” menghabiskan jutaan dollar untuk mendesain restoran (gambar 4). Sebagai contoh, tempat duduk plastik yang sangat tidak nyaman sehingga yang makan akan segera menyatap makanannya secara cepat dan segera meninggalkan restoran. Tempat sampah tersebunyi sehingga pengunjung bisa makan tanpa harus melihat tempat sampah. Meja berwarna yang sangat mudah dibersihkan, terdapat saluranmusik yang diperdengarkan, dan cahaya neon (gambar 5) agar pengunjung bisa merasa gembira. Ketika memasuki fasilitas makan, hal pertama yang anda ingat adalah gemerlap lampu neon. Restoran juga penuh dengan bunga plastik (gambar 6) agar pengunjung merasa betah. Yang paling penting, adalah arena bermain dibagian depan yang menggambil sebagian besar gedung. Itu adalah alat manipulasi agar anak-anak melihat dan meminta orang tua berhenti dan makan disitu. Bagian tersebut menarik banyak pelanggan.

HUBUNGAN PEGAWAI/PENGGUNJUNG. Para pegawai sangat ramah terhadap pengunjung, tetapi mereka tidak fleksible. Seseorang hanya bisa memesan apa yang tertera pada daftar. Juga tampak suatu ketidaksopanan. Misalnya ketika kita sedang makan tiba-tiba ada petugas pembersih yang akhirnya kita harus mengangkat kaki agar lantai bisa dipel. Para pegawi ramah satu dengan lainnya. Para pengunjung juga sibuk dengan makanannya, mereka tidak berbicara satu sama lain.

KELAS SOSIAL. “McDonald’s” tidak menarik bagi kelas atas. Kebanyakan pengunjung adalah kelas pekerja atau kelas bawah. Pakaian yang mereka kenakan adalah pakaian santai,juga ada beberapa gelandangan (seorang gelandang tampak menggunakan ransel). Pengunjung dan pegawai berasal dari kelas yang sama.

BAHASA. Bahasa utama yang digunakan adalah spanyol. Sementara pengunjung mengunakan bahasa Spanyol atau Inggris. Sebagai contoh ketika ditanya sebuah pertanyaan mereka menjawan,” No comprendo.” Tabel gizi makanan juga tertulis dalam bahasa spanyol.

Dengan kata lain,”Mc Donald’s” telah menginvasi masyarakat ini dengan mempengaruhi bagian paling rentan, yaitu anak-anak. Mereka melihat mainan juga arena permainan sehingga meminta orang tua untuk membawa mereka kesana. Para orang tua tidak sadar akan rendahnya kualitas makanan.

Meskipun mereka tahu sedang memakan makanan yang bisa menyebabkan buntunya pembuluh darah, makanan pemendek umur, mereka tetap saja memakannya. Mereka tidak peduli apa yang mereka makan sepanjang rasanya enak …dan harganya murah. Dan anak-anak mereka puas.

Gambar 1 (makhluk bumi sudah diperingatkan atas yang mereka makan)

1

Gambar 2 (drive thru)

2

Gambar 3 (Para pengunjung)

3

Gambar 4 (Layout McDonald’s)

4


Gambar 5 (Cahaya Neon)

51

Gambar 6 (Bunga Plastik)

6

Gambar 7 (Panduan fakta gizi dalam bahasa Spanyol)

Maaf gambar tidak tersedia

LAINNYA:

Setelah memproses gambar “McDonald’s” melalui scanner khusus yang diciptakan oleh ilmuwan dari planet kami, kami mendapat kan hasil sebagai berikut:

Sebelum Decoding

71

Setelah Decoding

8


Program Renstra 2010-2014

Februari 3, 2009

oa5x03541Di bulan Januari 2009, Labdik Sosiologi-Antropologi  PPPPTK  PKn dan IPS Malang membuat usulan rencana strategik (renstra) untuk periode tahun 2010-2014. Berbagai agenda kegiatan telah disiapkan, yaitu: 1) Seleksi dan TNA Calon Peserta Diklat Berjenjang; 2) Diklat Berjenjang Guru Sosiologi dan Antropologi SMA (Jenjang Dasar, Jenjang Lanjut, Jenjang Menengah, dan Jenjang Tinggi); 3) Monitoring dan Evaluasi Dampak Diklat; 4) Penyusunan dan Revisi Silabus Diklat Guru Sosiologi dan Antropologi (MGMP, Diklat Berjenjang, Diklat Pengembangan Model Pembelajaran, Diklat Penyusunan Instrumen Penilaian); 5) Penulisan Bahan Ajar; 6) Produksi VCD Pembelajaran; 7) Produksi CD Interaktif; 8. Workshop (Workshop Widyaiswara, Workshop Alumni, Workshop Penelitian Sosial, Workshop Karya Tulis Ilmiah); 9) Seminar (Seminar Model Pembelajaran, Seminar Penelitian Tindakan Kelas); 10) Lomba dan Olimpiade Mata Pelajaran; 11) Penelitian Pembelajaran; 12) IHT Multimedia; 13) Program Kemitraan (Sekolah, Dinas, Lembaga Pendidikan); 14) Studi Banding Laboratorium Pendidikan


Reality Show

Februari 2, 2009

Our reality has become experimental. Without destiny , modern man is left with an endless experimentation of himself. (Jean Baudrillard Dust Breeding”)

oa8x0522Beberapa waktu yang lalu seorang teman mengirim sebuah e-mail tentang kekhawatiran akan banyaknya tayangan reality show di televisi. Perasaan yang dikatakan tidak berlebihan karena pada faktanya televisi saat ini dibanjiri dengan tayangan model tersebut. Mulai dari memberi hadiah uang pada si miskin yang kemudian diberi waktu beberapa jam untuk membelanjakan uang tersebut (rupanya si produser ingin menguji adagiumnya Voltaire : “dalam urusan uang semua agama –baca: orang– adalah sama”), perlombaan terhadap siapa yang lebih banyak ditolong: “gadis cantik” dan seorang “ibu tua” (rupanya produser malu untuk bilang perempuan jelek), para perempuan cantik yang berebut untuk mendapatkan cinta si “Joe” yang seorang “millionaire” (produser ingin bilang, semua perempuan sama saja: “moto bensin”), perlombaan untuk mendapatkan sebuah rumah (pesertanya mulai dari para pembantu hingga eksekutif muda), dan yang terbaru: menjadi pembantu dari seorang artis dengan bayaran 10 juta perbulan (sama dengan 10 bulan kerja PNS golongan III A dengan lama kerja 0 thn) ; lalu setelah bosan model kontes-kontes mencari penyanyi dan pelawak berbakat dibuat kontes untuk mencari dai berbakat dengan format yang sama (Judulnya menjadi “Titian Dai”. Menarik juga kenapa tidak memakai judul “Dai Idol”? Mungkin karena produser tahu bahwa “idol” = “memberhalakan” dan hal tersebut sangat dilarang dalam Islam).

Baca entri selengkapnya »


Ruwatan: Mengendalikan Kala

Februari 2, 2009

lukisan_011Telah banyak diketahui bahwa ruwatan adalah tradisi Jawa asli. Ruwatan memuat nilai-nilai budi pekerti luhur yang pantas dijadikan pegangan hidup. Menurut Suwardi Endraswara (Budi Pekerti dalam Budaya Jawa, Hanindita Yogyakarta, 2003), ruwat berarti memperbaiki yang rusak, membersihkan yang cacat, dan mengganti yang tidak baik. Hal ini berarti, bahwa orang yang diruwat ada yang kotor. Hal yang kotor itu dinamakan sukerta.

Sukerta, berarti orang yang cacat, yang lemah, dan tak sempurna. Karena itu orang tersebut harus diruwat, artinya dibersihkan atatu dicuci agar bersih. Orang sukerta tersebut jika tidak diruwat akan menjadi mangsa batara kala. Karenanya, ruwatan juga dinamakan murwakala, artinya murwa (murba) YAKNI MENGENDALIKAN ATAU MENGUASAI KALA (Batara Kala). Kala juga berarti waktu. Jadi menguasai kala berarti mampu memanfaatkan waktu dengan sungguh-sungguh. Orang yang mampu menguasai waktu, berarti akan hidup tenteram.

Dalam tradisi ruwatan, ada beberapa orang yang tergolong sukerta. Orang-orang itu, jika telah diruwat akan bebas dari ancaman kala. Para sukerta itu sangat banyak jumlahnya, lebih dari 50 macam, antara lain sebagai berikut:

1. Orang yang menanak nasi merobohkan dandang (alat penanak nasi).

2. Orang yang mematahkan pipisan (batu gilasan jamu).

3. Mempunyai kebiasaan membakar rambut dan tulang

4. Anak ontang-anting, artinya anak laki-laki tunggal (sendirian)

5. Anak luminting, artinya anak yang lahir tanpa ari-ari.

Baca entri selengkapnya »


Makna di Balik Ruwatan

Februari 2, 2009

dalang_timbul1Istilah “modern” perlu ditegaskan di sini bukan dalam pengertian “kebarat-baratan”. Modern disini tetap terintegrasi dengan sumber dasar kebudayaan Indonesia di Jawa pada khususnya. Dengan demikian pandangan-pandangan masyarakat yang asli tetap akan terangkat ke dalam kesadaran kita sebagai tantangan. Usaha untuk menghindari dan menjauhkan diri dari kekacauan dan gangguan kejahatan, seseorang harus belajar dan mencari ilmu tentang rahasia kehidupan dunia melalui kearifan dan kebaikan.

Berbicara mengenai belajar dan mencari ilmu mempunyai kaitan dengan dunia pendidikan. Demikian pula dengan ruwatan, sebenarnya adalah identik dengan arti pendidikan atau dengan kata lain, ruwatan bisa diganti dengan pendidikan. Maksudnya, jika seseorang mampu mendidik anak-anaknya, entah itu pandawa, tunggal atau entah yang lain lagi secara tepat dan benar sejak kecil sampai dewasa hingga memiliki kearifan dan kebajikan, maka anak itu akan terawat dari sukerta. Apakah itu berarti sudah tidak perlu lagi mengadakan ruwatan apabila seseorang itu telah mendidik anaknya dengan benar? Bagaimanapun juga ruwatan adalah budaya bangsa sendiri, jadi tidak salah bila kita perlu untuk melestarikannya.

Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.