<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>THE LABOR ANTS</title>
	<atom:link href="http://sosantro.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sosantro.wordpress.com</link>
	<description>Blog Milik Labdik Sosiologi-Antropologi P4TK PKn dan IPS</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Apr 2009 05:28:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sosantro.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>THE LABOR ANTS</title>
		<link>http://sosantro.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sosantro.wordpress.com/osd.xml" title="THE LABOR ANTS" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sosantro.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tentang Ketelanjangan</title>
		<link>http://sosantro.wordpress.com/2009/04/04/tentang-ketelanjangan/</link>
		<comments>http://sosantro.wordpress.com/2009/04/04/tentang-ketelanjangan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2009 05:28:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sosantro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosantro.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[NUDITY: A CULTURAL ANATOMY By Ruth Barcan © Berg 2004 308 Pages Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang….QS. Thaahaa: 118 Beberapa bulan ke depan tampaknya akan ramai diperdebatkan mengenai UU Anti Pornografi yang akan segera disahkan. Buku berikut ini memang tidak berbicara mengenai apa itu pornografi, tapi buku ini malah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosantro.wordpress.com&amp;blog=1256516&amp;post=64&amp;subd=sosantro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-67" title="nudity11" src="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/04/nudity11.jpg?w=450" alt="nudity11"   /></p>
<p>NUDITY: A CULTURAL ANATOMY</p>
<p>By Ruth Barcan</p>
<p>© Berg 2004</p>
<p>308 Pages</p>
<p>Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang….QS. Thaahaa: 118</p>
<p>Beberapa bulan ke depan tampaknya akan ramai diperdebatkan mengenai UU Anti Pornografi yang akan segera disahkan. Buku berikut ini memang tidak berbicara mengenai apa itu pornografi, tapi buku ini malah berbicara mengenai hal yang lebih esensial berkaitan dengan masalah pornografi, yaitu tentang telanjang.</p>
<p>Sebuah kisah satir tentang pakaian dan ketelanjangan adalah karya Anatole France, “Penguin Island” (http://www.gutenberg.org/files/1930/1930-h.zip) yang berkisah sekelompok penguin yang dibaptis oleh seorang pastor pandir. Penguin-penguin tersebut karena telah masuk dalam agama Ibrahim, akhirnya diwajibkan untuk berpakaian. Kisah selanjutnya adalah para penguin justru kehilangan sifat-sifat baiknya. Pakaian yang mereka gunakan menjadi simbol dari status sosial, sumber kejahatan dan terakhir sumber dari peperangan. Kisah tersebut menggambarkan bahwa pakaian adalah kemunafikan pertama manusia, yang kemudian diikuti dengan hal-hal jelek lainnya seperti rakus hingga perang. Cerita tersebut juga menggambarkan pakaian sebagai bentuk dari alienasi dari ketidaksadaran primordial, dalam arti para “penguin” akhirnya membuat perbedaan antara yang satu dengan lainnya.</p>
<p>Manusia aslinya memang ditakdirkan untuk telanjang. Pada perkembangan kebudayaan berikutnya ada keharusan baginya untuk berpakaaian. Keharusan ini berkaitan juga dengan fungsi dari pakaian itu sendiri. Larrisa Bonfante mencatat ada lima fungsi dari pakaian yang digunakan manusia: 1. perlindungan thd lingkungan sekitar; 2. alat untuk membedakan dengan kelompok atau kelas lain; 3. mencegah malu ; 4. sumber dari kesenangan estetik (misal untuk keindahan atau menarik lawan jenis); 5. fungsi apotropaic (menghindari pengaruh sihir, magic dsb).</p>
<p>Secara etimologi sebenarnya kata telanjang tidak ada kaitannya dengan sex. Dalam buku ini diperlihatkan baik kata “naked” dan “nude” tidak kaitannya secara asal usul istilah dengan sex. Tp masyarakat telah terlanjur mengasosiasikan telanjang dengan sex. Dan memang secara teknis sebenarnya manusia tidak harus telanjang dalam berhubungan sex. Oleh karena itu pengasosiasian tersebut oleh Barcan dianggap sebagai fenomena (halaman 3). Meski demikian memang tetap saja ada saluran yang menghubungkan antara keduanya. Misalnya saja dalam budaya konsumer (yaitu film-film porno) ketelanjangan adalah “sign” dari sex.</p>
<p>Dalam kebudayaan barat sendiri terdapat sikap ambigu terhadap ketelanjangan. Disalah satu sisi ketelanjangan dianggap sebagai sifat dari alamiah manusia, tapi disatu sisi dianggap sebagai tidak pantas. Hal ini karena barat mewarisi dua tradisi yang saling bertolak belakang. Disalah satu sisi ada tradisi Yunani yang menganggap ketelanjangan adalah alamiah (bisa diliat pada patung-patung Yunani kuno) dan tradisi Yahudi pada agama kristen, dimana ketelanjangan dianggap sebagai tidak pantas. Ini sama halnya sikap barat terhadap rambut kemaluan. Dimana disatu sisi dianggap sebagai proteksi dari ketelanjangan dan disisi lain dianggap sebagai bukti dari ketelanjangan yang cabul. Salah satu informan yang diwawancarai dalam buku ini dan berprofesi sebagai model erotis fotografi, mengatakan ketika ia mencukur bulu kemaluannya sang fotografer menolaknya karena akan membuat foto yang dia buat menjadi karya pornografi.</p>
<p>Meski demikian bulu kemaluan sendiri dianggap sebagai kecabulan terutama bagi perempuan. Dalam kehidupan estetik Yunani Kuno, baik dalam keseharian maupun dalam seni, menghilangkan rambut kemaluan adalah keharusan. Pada jaman Victoria bahkan terhadap regulasi hukum yang mengasosiasikan rambut kemaluan dengan kecabulan. Pada saat ini dimana budaya massa demikian berperan dalam mengatur perilaku seseorang, di barat terdapat praktek bagi perempuan untuk memangkas rambut kemaluan hingga menyerupai garis panjang. Hal ini dikarenakan tuntutan pasangan pria mereka yang menghendaki agar mereka bisa mirip dengan bintang-bintang majalah playboy. Hal ini dikarenakan bintang-bintang dalam majalah Playboy telah menjadi obyek fantasi seksual bagi banyak laki-laki.</p>
<p>Trimming like this&#8230;.</p>
<p>Trimming like this&#8230;.</p>
<p>Buku ini terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama terdiri dari 2 bab, yaitu Bab 1 dan 2. Bagian ini secara luas membandingkan berbagai studi mengenai ketelanjangan dalam tradisi filsafat barat. Bab 1 memberi fokus pada dialektika antara pakaian dan ketelanjangan. Bab 2 mengenai nilai positif dan negatif ketelanjangan sebagai metafor, suatu paradox yang membuatnya tidak stabil dan sebab itu menjadikan ketelanjangan sebagai ide budaya yang kuat. Bagian kedua dari buku ini memfokuskan pada tipe-tipe atau mode kemanusiaan dan hubungannya dengan kategori identitas. Bab 3 memfokuskan pada peran ketelanjangan dalam membangun ide sekelompok orang sebagai liar, menyimpang dsb. Bab 4 memfokuskan pada peran ketelanjangan dalam budaya konsumer aatau massa pada saat ini.</p>
<p>Buku ini sangat menantang dalam memberi pemahaman kita atas apa itu ketelanjangan. Bila dikaitkan dengan sikap ambigu barat terhadap ketelanjangan, masyarakat kita memiliki problem yang sama. Dalam banyak tradisi lokal, ketelanjangan, seperti di Papua, suku Kubu, beberapa suku Dayak akan dianggap sebagai tidak pantas oleh agama-agama besar di Indonesia.Maka dari itu akhirnya tidak heran juga jika nantinya UU Anti Pornografi akan mendapat banyak tentangan. Tentangan itu sendiri adalah refleksi dari sifat ambigu dari ketelanjangan itu sendiri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosantro.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosantro.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosantro.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosantro.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sosantro.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sosantro.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sosantro.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sosantro.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosantro.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosantro.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosantro.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosantro.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosantro.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosantro.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosantro.wordpress.com&amp;blog=1256516&amp;post=64&amp;subd=sosantro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosantro.wordpress.com/2009/04/04/tentang-ketelanjangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3886530471af1025bb6ba2f845610e54?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sosantro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/04/nudity11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">nudity11</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pindah Markas</title>
		<link>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/19/pindah-markas/</link>
		<comments>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/19/pindah-markas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Feb 2009 05:44:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sosantro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosantro.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Minggu kedua Bulan Pebruari 2009. kru Labdik Sosantro disibukkan dengan acara kemas-kemas buku, komputer, dan dokumen penting lainnya, serta memberi label pada barang inventaris . Hari Rabu 18 Pebruari 2009, dengan angkutan truk Laboratorium Sosiologi-Antropologi (Sosantro) resmi pindah ruang sekaligus pindah kantor. Setelah lebih dari 10 tahun menempati Lantai III Gedung Anggrek di P4TK PKn [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosantro.wordpress.com&amp;blog=1256516&amp;post=60&amp;subd=sosantro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-61" title="img_0089" src="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/img_0089.jpg?w=128&#038;h=96" alt="img_0089" width="128" height="96" />Minggu kedua Bulan Pebruari 2009. kru Labdik Sosantro disibukkan dengan acara kemas-kemas buku, komputer, dan dokumen penting lainnya, serta memberi label pada barang inventaris . Hari Rabu 18 Pebruari 2009, dengan angkutan truk Laboratorium Sosiologi-Antropologi (Sosantro) resmi pindah ruang sekaligus pindah kantor. Setelah lebih dari 10 tahun menempati Lantai III Gedung Anggrek di P4TK PKn dan IPS Malang, Jalan Veteran 9 Malang, kini labdik Sosantro menempati pos barunya di Gedung Laboratorium (mungkin juga nanti tetap dinamai Gedung Anggrek) Lantai II di Jl. Raya Arhanud, Desa Pendem, Kec. Junrejo Kota Batu, sekitar 11 km dari kantor lama.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tempat yang baru, Labdik Sosantro dipecah sesuai karakteristik Bidang Studi yakni Sosiologi dan Antropologi , dan menempati 2 ruang berdampingan dengan Laboratorium Komputer. Sementara Labdik lainnya: Labdik IPS, Geografi, Ekonomi, PKn, dan Sejarah menempati lantai I.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosantro.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosantro.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosantro.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosantro.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sosantro.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sosantro.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sosantro.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sosantro.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosantro.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosantro.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosantro.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosantro.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosantro.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosantro.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosantro.wordpress.com&amp;blog=1256516&amp;post=60&amp;subd=sosantro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/19/pindah-markas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3886530471af1025bb6ba2f845610e54?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sosantro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/img_0089.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">img_0089</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TUGAS ETNOGRAFI UNTUK SMA</title>
		<link>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/04/tugas-etnografi-untuk-sma/</link>
		<comments>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/04/tugas-etnografi-untuk-sma/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 04:32:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sosantro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosantro.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Ketika mengunjungi sebuah SMA untuk pembuatan VCD pembelajaran Antropologi, guru yang mengampu pelajaran tersebut bertanya kepada saya, bagaimana memberi tugas antropologi kepada siswa. Pertanyaan tersebut sangat menantang karena berkaitan dengan memperkenalkan antropologi yang merupakan studi tingkat universitas kepada siswa SMA. Bayangan orang terhadap antropologi adalah selalu terkait dengan masa lampau, suku terasing yang jauh dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosantro.wordpress.com&amp;blog=1256516&amp;post=43&amp;subd=sosantro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Ketika mengunjungi sebuah SMA untuk pembuatan VCD pembelajaran Antropologi, guru yang mengampu pelajaran tersebut bertanya kepada saya, bagaimana memberi tugas antropologi kepada siswa. Pertanyaan tersebut sangat menantang karena berkaitan dengan memperkenalkan antropologi yang merupakan studi tingkat universitas kepada siswa SMA. Bayangan orang terhadap antropologi adalah selalu terkait dengan masa lampau, suku terasing yang jauh dari mana-mana. Padahal itu adalah sisi romantik dari antropologi. Antropologi telah berkembang jauh. Tidak lagi berkubang pada masa lalu, tapi pada masa kini. Berikut disajikan contoh terkait dengan pemberian tugas antropologi untuk siswa SMA. Naskah asli ini dalam bahasa inggris (bisa diambil di <a title="McDonald's Ethnography" href="http://www.esnips.com/doc/61b11829-2397-40b1-a810-352c8f7fabfa/McDonalds-Ethnography">http://www.esnips.com/doc/61b11829-2397-40b1-a810-352c8f7fabfa/McDonalds-Ethnography</a>).</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">ETNOGRAFI MCDONALD</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">KEPADA: NGNMO SZQUEL, KOMANDAN PENJELAJAH BINTANG X</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">DARI: IAN CINNAMON, AGEN LAPANGAN</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">SUBYEK: Studi <em>on-going</em> musuh kita</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">STATUS MISI: TERLAKSANA</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Saat ini saya telah menyelesaikan ekspedisi terhadap planet yang disebut sebagai “bumi”. Saya mengunjungi sebuah fasilitas makan yang diberi nama “McDonald”. Studi saya mengenai makhluk bumi berkaitan dengan persiapan untuk invasi. Saya harapkan invasi kita akan sukses dikarenakan sifat lemah dari manusia – meskipun manusia tahu betapa buruk makanan yang mereka makan bagi kesehatan (gambar 1) mereka tetap saja memakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Laporan ini terbagi dalam 8 bagian : makanan, nilai, gender/usia/pembagian kerja/status dan peran,keluarga, penggunaan ruang, hubungan pegawai/pengunjung,kelas sosial, dan bahasa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">MAKANAN. Fasilitas makan ini menyediakan tiga jenis makanan.<span> </span>Antara lain: daging sapi goreng yang ditaruh diatas 2 iris roti (alias hamburger), kentang goreng (alias french fries), beberapa irisan dagi ayam dalam sebuah roti (alias sandwich). Anehnya, manusia berbondong-bondong mengantri makanan tanpa nutrisi ini. Tempat yang dikunjungi dalam laporan ini menhabiskan seribu hamburger setiap hari. Dengan maksud melayani banyak manusia yang lapar, manajemen menginginkan agar kerumunan ini tetap bergerak. Untuk itu mereka memiliki jendela<span> </span>“drive thru” (gambar 2) dan hamburger setengah jadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">NILAI. “McDonald’s” ingin agar para pelanggannya merasa gembira dan ikut terlibat. Mereka<span> </span>memberi daya tarik pada apa yang mereka lihat sebagai nilai-nilai pelanggan. Kata –kata kunci sering digunakan dalam iklan dan brosur diseluruh bagian restoran ada. “Gembira”, “Senyum”,”Segar”, “Komunitas Kita”, “Komitmen Kami”, mengitari para pengunjung yang lapar. Kata “Komunitas” membuat para pengunjung berpikir McDonal’s pduli terhadap mereka. Beberapa nilai yang lain kebersihan, kualitas, dan servis.”McDonal’s” mendukung beberapa kegiatan amal – seperti rumah Ronal McDonald bagi anak sakit dan yang membutuhkan. Bagaimanapun, kesan yang saya tangkap<span> </span>terhadap apa yang memotivasi manusia datang ke McDonald’s adalah makanan murah untuk mengisi perut yang lapar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">GENDER/USIA/PEMBAGIAN KERJA. Hanya ada dua pegawai pria dan delapan pegawai wanita, semuanya berusia 30 – 40 tahun. (populasi yang tua ini mungkin berkaitan dengan jam kedatangan saya yaitu jam 8 pada malam minggu). Ada enam jenis pekerjaan yaitu, kasir, pembungkus makanan, pembuat makanan, penunggu drive thru,gadis pembersih. Keempat manajer tidak memiliki banyak tanggung jawab. Ketika ditanya jika ada pesta, mereka menjawab,”kamu bisa bertanya pada pemilik.” Pengunjung bisa laki-laki maupun perempuan. Usia bisa berbeda-beda. Bisa remaja, anak-anak (7 s/d 12 tahun) dengan orang tua mereka (30 s/d 40 tahun), beberapa oarng yang berusia 30 s/d 40 tahun dan orang tua yang tampaknya kurang waras yang berbicara pada dirinya sendiri (berusia kurang lebih 70 s/d 80 tahun) (gambar 3).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">KELUARGA. Banyak pengunjung yang datang ke McDonald’s<span> </span>bersama keluarga. Satu keluarga rata-rata berisi tiga sampai 4 orang. Kebanyakan keluarga hanya datang bersama ibu bersama anak-anaknya, tanpa ayah. Keluarga tanpa gembira dan saling berbicara satu sama lain. Anak-anak mempengaruhi perilaku orang tua oleh karena itu sangat mengotrol dalam lingkingan ini. Beberapa diantara terlihat mengantri makanan dan membayar makanan dengan uang yang diberikan oleh orang tua mereka. “McDonald’s” bisa disebut sebagai “ramah anak”. Terdapat makanan khusus anak dengan mainan (sebagai alat manipulasi)<span> </span>dan arena bermain yang sangat mengundang dan<span> </span>menyenangkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">PENGGUNAAN RUANG. Sangat jelas “McDonald’s” menghabiskan jutaan dollar <span> </span>untuk mendesain restoran (gambar 4). Sebagai contoh, tempat duduk plastik yang sangat tidak nyaman sehingga yang makan akan segera menyatap makanannya secara cepat dan segera meninggalkan restoran. Tempat sampah tersebunyi sehingga pengunjung bisa makan tanpa harus melihat tempat sampah. Meja berwarna yang sangat mudah dibersihkan, terdapat saluranmusik yang diperdengarkan, dan cahaya neon (gambar 5) agar pengunjung bisa merasa gembira. Ketika memasuki fasilitas makan, hal pertama yang anda ingat adalah gemerlap lampu neon. Restoran juga penuh dengan bunga plastik (gambar 6) agar pengunjung merasa betah. Yang paling penting, adalah arena bermain dibagian depan yang menggambil sebagian besar gedung. Itu adalah alat manipulasi agar anak-anak melihat dan meminta orang tua berhenti dan makan disitu. Bagian tersebut menarik banyak pelanggan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">HUBUNGAN PEGAWAI/PENGGUNJUNG. Para pegawai sangat ramah terhadap pengunjung, tetapi mereka tidak fleksible. Seseorang hanya bisa memesan apa yang tertera pada daftar. Juga tampak suatu ketidaksopanan. Misalnya ketika kita sedang makan tiba-tiba ada petugas pembersih yang akhirnya kita harus mengangkat kaki agar lantai bisa dipel. Para pegawi ramah satu dengan lainnya. Para pengunjung juga sibuk dengan makanannya, mereka tidak berbicara satu sama lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">KELAS SOSIAL. “McDonald’s” tidak menarik bagi kelas atas. Kebanyakan pengunjung adalah kelas pekerja atau kelas bawah. <span> </span>Pakaian yang mereka kenakan adalah pakaian santai,juga ada beberapa gelandangan (seorang gelandang tampak menggunakan ransel). Pengunjung dan pegawai berasal dari kelas yang sama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">BAHASA. Bahasa utama yang digunakan adalah spanyol. Sementara pengunjung mengunakan bahasa Spanyol atau Inggris. Sebagai contoh ketika ditanya sebuah pertanyaan mereka menjawan,” No comprendo.” Tabel gizi makanan juga tertulis dalam bahasa spanyol.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Dengan kata lain,”Mc Donald’s” telah menginvasi masyarakat ini dengan mempengaruhi bagian paling rentan, yaitu anak-anak. Mereka melihat mainan juga arena permainan sehingga meminta orang tua untuk membawa mereka kesana. Para orang tua tidak sadar akan rendahnya kualitas makanan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Meskipun mereka tahu sedang memakan makanan yang bisa menyebabkan buntunya pembuluh darah, makanan pemendek umur, mereka tetap saja memakannya. Mereka tidak peduli apa yang mereka makan sepanjang rasanya enak …dan harganya murah. Dan anak-anak mereka puas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Gambar 1 (makhluk bumi sudah diperingatkan atas yang mereka makan) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-44" title="1" src="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/1.jpg?w=300&#038;h=293" alt="1" width="300" height="293" /><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Gambar 2 (drive thru)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-45" title="2" src="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/2.jpg?w=229&#038;h=300" alt="2" width="229" height="300" /><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Gambar 3 (Para pengunjung)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-46" title="3" src="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/3.jpg?w=300&#038;h=167" alt="3" width="300" height="167" /><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Gambar 4 (Layout McDonald’s)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-48" title="4" src="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/4.jpg?w=204&#038;h=300" alt="4" width="204" height="300" /><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Gambar 5 (Cahaya Neon)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-49" title="51" src="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/51.jpg?w=300&#038;h=222" alt="51" width="300" height="222" /><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Gambar 6 (Bunga Plastik)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><img class="aligncenter size-full wp-image-50" title="6" src="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/6.jpg?w=450" alt="6"   /><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Gambar 7 (Panduan fakta gizi dalam bahasa Spanyol)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Maaf gambar tidak tersedia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">LAINNYA:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Setelah memproses gambar “McDonald’s” melalui scanner khusus yang diciptakan oleh ilmuwan dari planet kami, kami mendapat kan hasil sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Sebelum Decoding</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><img class="aligncenter size-full wp-image-52" title="71" src="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/71.jpg?w=450" alt="71"   /><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Setelah Decoding</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><img class="aligncenter size-full wp-image-53" title="8" src="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/8.jpg?w=450" alt="8"   /><br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosantro.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosantro.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosantro.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosantro.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sosantro.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sosantro.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sosantro.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sosantro.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosantro.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosantro.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosantro.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosantro.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosantro.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosantro.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosantro.wordpress.com&amp;blog=1256516&amp;post=43&amp;subd=sosantro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/04/tugas-etnografi-untuk-sma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3886530471af1025bb6ba2f845610e54?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sosantro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/2.jpg?w=229" medium="image">
			<media:title type="html">2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/4.jpg?w=204" medium="image">
			<media:title type="html">4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/51.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">51</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/71.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">71</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/8.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">8</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Program Renstra 2010-2014</title>
		<link>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/03/program-renstra-2010-2014/</link>
		<comments>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/03/program-renstra-2010-2014/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 04:26:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sosantro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosantro.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Di bulan Januari 2009, Labdik Sosiologi-Antropologi  PPPPTK  PKn dan IPS Malang membuat usulan rencana strategik (renstra) untuk periode tahun 2010-2014. Berbagai agenda kegiatan telah disiapkan, yaitu: 1) Seleksi dan TNA Calon Peserta Diklat Berjenjang; 2) Diklat Berjenjang Guru Sosiologi dan Antropologi SMA (Jenjang Dasar, Jenjang Lanjut, Jenjang Menengah, dan Jenjang Tinggi); 3) Monitoring dan Evaluasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosantro.wordpress.com&amp;blog=1256516&amp;post=32&amp;subd=sosantro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:36.0pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:36.0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:36.0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:36.0pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:2040812041; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-260437716 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;} --> <!--[endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-alt:"Arial Rounded MT Bold"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:36.0pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:36.0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:36.0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:36.0pt; 	mso-add-space:auto; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1054041349; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-2023312440 67698689 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --></p>
<p><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-37" title="oa5x03541" src="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/oa5x03541.jpg?w=124&#038;h=96" alt="oa5x03541" width="124" height="96" />Di bulan Januari 2009, Labdik Sosiologi-Antropologi  PPPPTK  PKn dan IPS Malang membuat usulan rencana strategik (renstra) untuk periode tahun 2010-2014. Berbagai agenda kegiatan telah disiapkan, yaitu: 1) Seleksi dan TNA Calon Peserta Diklat Berjenjang; 2) Diklat Berjenjang Guru Sosiologi dan Antropologi SMA (Jenjang Dasar, Jenjang Lanjut, Jenjang Menengah, dan Jenjang Tinggi); 3) Monitoring dan Evaluasi Dampak Diklat; 4) Penyusunan dan Revisi Silabus Diklat Guru Sosiologi dan Antropologi (MGMP, Diklat Berjenjang, Diklat Pengembangan Model Pembelajaran, Diklat Penyusunan Instrumen Penilaian); 5) Penulisan Bahan Ajar; 6) Produksi VCD Pembelajaran; 7) Produksi CD Interaktif; 8. Workshop (Workshop Widyaiswara,<span> </span>Workshop Alumni, Workshop Penelitian Sosial, Workshop Karya Tulis Ilmiah); 9) Seminar (Seminar Model Pembelajaran, Seminar Penelitian Tindakan Kelas); 10) Lomba dan Olimpiade Mata Pelajaran; 11) Penelitian Pembelajaran; 12) IHT Multimedia; 13) Program Kemitraan (Sekolah, Dinas, Lembaga Pendidikan); 14) Studi Banding Laboratorium Pendidikan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosantro.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosantro.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosantro.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosantro.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sosantro.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sosantro.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sosantro.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sosantro.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosantro.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosantro.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosantro.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosantro.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosantro.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosantro.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosantro.wordpress.com&amp;blog=1256516&amp;post=32&amp;subd=sosantro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/03/program-renstra-2010-2014/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3886530471af1025bb6ba2f845610e54?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sosantro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/oa5x03541.jpg?w=124" medium="image">
			<media:title type="html">oa5x03541</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Reality Show</title>
		<link>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/02/reality-show/</link>
		<comments>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/02/reality-show/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 07:21:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sosantro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosantro.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Our reality has become experimental. Without destiny , modern man is left with an endless experimentation of himself. (Jean Baudrillard “Dust Breeding”) Beberapa waktu yang lalu seorang teman mengirim sebuah e-mail tentang kekhawatiran akan banyaknya tayangan reality show di televisi. Perasaan yang dikatakan tidak berlebihan karena pada faktanya televisi saat ini dibanjiri dengan tayangan model [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosantro.wordpress.com&amp;blog=1256516&amp;post=27&amp;subd=sosantro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-family:&quot;">Our reality</span></em><span><em><span style="font-family:&quot;"> has become experimental. Without destiny , modern man is left with an endless experimentation of himself. (Jean Baudrillard<span> </span>“<strong>Dust Breeding</strong>”)</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;color:windowtext;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-26" title="oa8x0522" src="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/oa8x0522.jpg?w=128&#038;h=95" alt="oa8x0522" width="128" height="95" />B</span><span><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">eberapa waktu yang lalu seorang teman mengirim sebuah <em>e-mail</em> tentang kekhawatiran akan banyaknya tayangan </span><em><span>reality show </span></em><span>di televisi. Perasaan yang dikatakan tidak berlebihan karena pada faktanya televisi saat ini dibanjiri dengan tayangan model tersebut. Mulai<span> </span>dari memberi hadiah uang pada si miskin yang kemudian diberi waktu beberapa jam untuk membelanjakan uang tersebut (rupanya si produser ingin menguji adagiumnya Voltaire : “dalam urusan uang semua agama –baca: orang&#8211; adalah sama”), perlombaan terhadap siapa yang lebih banyak ditolong: “gadis cantik” dan seorang “ibu tua” (rupanya produser malu untuk bilang perempuan jelek), para perempuan cantik yang berebut untuk mendapatkan cinta si “Joe” yang seorang “millionaire” (produser ingin bilang, semua perempuan sama saja: “moto bensin”), perlombaan untuk mendapatkan sebuah rumah (pesertanya mulai dari para pembantu hingga eksekutif muda), dan yang terbaru:<span> </span>menjadi pembantu dari seorang artis dengan bayaran 10 juta perbulan (sama dengan 10 bulan kerja PNS golongan III A dengan lama kerja 0 thn) ; lalu setelah bosan model kontes-kontes mencari penyanyi dan pelawak berbakat dibuat kontes untuk mencari dai berbakat dengan format yang sama (Judulnya menjadi “Titian Dai”. Menarik juga kenapa tidak memakai judul “Dai Idol”? Mungkin karena produser tahu bahwa “idol” = “memberhalakan” dan hal tersebut sangat dilarang dalam Islam).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span><span><span id="more-27"></span><br />
</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:9pt;"><span><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;"><span> </span>“Reality” sebenarnya sesuatu yang sangat kompleks yang ketika diwujudkan dalam sebuah tayangan secara sontak akan terdegradasikan menjadi sebuah imaji sederhana. Menjadi sederhana karena dengan dalih tidak sesuai dengan format acara banyak dari unsur-unsur “tak penting” dari realitas yang tak terekam. Meski demikian menurut Guy Debord (dalam </span><em><span>Society of The Spectacle</span></em><span>), ketika dunia nyata berubah dalam sebuah imaji sederhana, maka imaji sederhana tadi akan menjadi “</span><em><span>real</span></em><span> <em></em></span><span><em>being</em></span><em></em><span>” dan merupakan motivasi efektif perilaku hipnotis. Dengan kata lain justru disitulah kekuatan dari tayangan model tersebut yaitu dalam “menyihir” orang. Sehingga orang dengan “sukarela” berebut untuk berpartisipasi di dalamnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:9pt;"><span><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;"><span> </span>Imaji sendiri mempunyai tiga tingkatan: 1)refleksi dari sebuah realitas dasar, 2) menopengi dan me-nyamarkan sebuah realitas dasar, 3) menopengi “ketidakhadiran” sebuah realitas dasar, dan 4) tidak ada hubu-ngan dengan sebuah realitas apapun (sebuah </span><em><span>simulacra</span></em><span>). Apakah tayangan </span><em><span>reality show </span></em><span>merupakan sebuah imaji pada tingkat pertama? Bukankah dalam tayangan tersebut terdapat unsur komersialisasi realitas? Komersialisasi yang menopengi realitas? Kita juga tahu apa yang kita tonton itu adalah sesuatu yang “lumrah” disekitar kita. Sesuatu yang bersifat “banal”. Mungkin orang sudah menganggap peristiwa-peristiwa seperti perang, pemerkosaan dsb adalah sesuatu yang “banal” sehingga ketika ada tayangan yang mengkomersialkan realitas, maka tayangan tersebut sangat disukai.<span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:9pt;"><span><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;"><span> </span>Yang sangat menyedihkan adalah “mobilisasi” publik untuk menjadi juri. Publik dijadikan pembenaran atas pilihan menang kalah. Publik menjadi sumber kontrol kuasa atas diri seseorang. Mungkin dengan asumsi “</span><em><span>athenaian</span></em><span> <em></em></span><span><em>state democracy</em></span><em></em><span>” – bentuk demokrasi langsung yang idealnya diambil dari jaman Yunani kuno &#8211;, sehingga selalu ada klaim moral atas pembenaran tersebut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;"><span> </span>Mungkin sekarang adalah jaman di mana segala sesuatunya harus “tampak” (</span><em><span>visible</span></em><span>), baik karakter kita, ucapan kita dst sehingga publik bisa melihat dan menilainya. Tampaknya kebebasan individu secara sukarela harus bertekuk lutut dihadapan otoritarianisme massa. Massa yang memilih lewat sms dan <em>premium call</em></span><em>.</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><em><br />
</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;"><span>Ditulis tahun 2005 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;"><span>oleh Widijanto Judono, Teknisi Labdik Sosantro<em><br />
</em></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosantro.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosantro.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosantro.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosantro.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sosantro.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sosantro.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sosantro.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sosantro.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosantro.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosantro.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosantro.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosantro.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosantro.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosantro.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosantro.wordpress.com&amp;blog=1256516&amp;post=27&amp;subd=sosantro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/02/reality-show/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3886530471af1025bb6ba2f845610e54?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sosantro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/oa8x0522.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">oa8x0522</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ruwatan: Mengendalikan Kala</title>
		<link>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/02/ruwatan-mengendalikan-kala/</link>
		<comments>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/02/ruwatan-mengendalikan-kala/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 06:59:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sosantro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosantro.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Telah banyak diketahui bahwa ruwatan adalah tradisi Jawa asli. Ruwatan memuat nilai-nilai budi pekerti luhur yang pantas dijadikan pegangan hidup. Menurut Suwardi Endraswara (Budi Pekerti dalam Budaya Jawa, Hanindita Yogyakarta, 2003), ruwat berarti memperbaiki yang rusak, membersihkan yang cacat, dan mengganti yang tidak baik. Hal ini berarti, bahwa orang yang diruwat ada yang kotor. Hal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosantro.wordpress.com&amp;blog=1256516&amp;post=21&amp;subd=sosantro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;color:windowtext;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-22" title="lukisan_011" src="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/lukisan_011.jpg?w=128&#038;h=94" alt="lukisan_011" width="128" height="94" />T</span><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">elah banyak diketahui bahwa ruwatan adalah tradisi Jawa asli. Ruwatan memuat nilai-nilai budi pekerti luhur yang pantas dijadikan pegangan hidup. Menurut Suwardi Endraswara (Budi Pekerti dalam Budaya Jawa, Hanindita Yogyakarta, 2003), ruwat berarti memperbaiki yang rusak, membersihkan yang cacat, dan mengganti yang tidak baik. Hal ini berarti, bahwa orang yang diruwat ada yang kotor. Hal yang kotor itu dinamakan <em>sukerta</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">Sukerta, berarti orang yang cacat, yang lemah, dan tak sempurna. Karena itu orang tersebut harus diruwat, artinya dibersihkan atatu dicuci agar bersih. Orang sukerta tersebut jika tidak diruwat akan menjadi mangsa batara kala. Karenanya, ruwatan juga dinamakan murwakala, artinya murwa (murba) YAKNI MENGENDALIKAN ATAU MENGUASAI KALA (Batara Kala). Kala juga berarti waktu. Jadi menguasai kala berarti mampu memanfaatkan waktu dengan sungguh-sungguh. Orang yang mampu menguasai waktu, berarti akan hidup tenteram.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">Dalam tradisi ruwatan, ada beberapa orang yang tergolong sukerta. Orang-orang itu, jika telah diruwat akan bebas dari ancaman kala. Para sukerta itu sangat banyak jumlahnya, lebih dari 50 macam, antara lain sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:17pt;text-align:justify;text-indent:-17pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">1. Orang yang menanak nasi merobohkan dandang (alat penanak nasi). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:17pt;text-align:justify;text-indent:-17pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">2. Orang yang mematahkan pipisan (batu gilasan jamu).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:17pt;text-align:justify;text-indent:-17pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">3. Mempunyai kebiasaan membakar rambut dan tulang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:17pt;text-align:justify;text-indent:-17pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">4. Anak ontang-anting, artinya anak laki-laki tunggal (sendirian)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:17pt;text-align:justify;text-indent:-17pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">5. Anak luminting, artinya anak yang lahir tanpa ari-ari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:17pt;text-align:justify;text-indent:-17pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;"><span id="more-21"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">Demikian beberapa contoh anak-anak sukerta yang seharusnya diruwat. Tentu saja masih banyak lagi anak-anak sukerta yang perlu diruwat dan masing-masing memiliki nilai budi pekerti khusus. Tegasnya, tradisi ruwatan merupakan upaya strategis untuk mencari keselamatan. Apalagi kalau berkiblat pada wasiat yang pernah dikemukakan Sunan Kudus. Sunan Kudus pernah memotong taring Batara Kala dalam kisah pewayangan, agar tidak manakutkan anak-anak. Maksud pemotongan taring ini memuat nilai budipekerti agar kecelakaan yang mungkin timbul pada sukerta dapat teratasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;"><span> </span>Lebih jauh lagi, taring juga merupakan simbol dari nafsu kebuasan. Bayangkan, bukankah hewan-hewan yang memiliki ta-ring dan raksasapun juga mempunyai sifat buas. Lebih dalam lagi, taring tersebut milik Batara Kala yang konon lahir akibat <em>kamasalah</em>. Kamasalah adalah ajaran budi pekerti seksual yang agung. Yakni ketika Batara Guru telah bernafsu kepada Batari Uma, akhirnya tidak mempertimbangkan tempat dan waktu dalam<span> </span>ber-<em>making love</em><span> </span>Karenanya, lahir Batara Kala. Yang mengerikan lagi, Batara Uma lalu disuruh pergi oleh Batara Guru. Akhirnya sampai di Pasetran Gandamayit bersama Batara Kala. Batara Uma berubah wajah menjadi reseksi bernama Batari Durga dan menjadi isteri Batara Kala.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;"><span> </span>Hal demikian sebagai akibat kamasalah, sehingga terjadi kerusakan dan berantakan rumah tangga yang tak karuan. Jika seseorang sampai meneteskan kama (sperma) bukan pada tempat dan waktunya yang tepat, berarti tidak menghargai kesucian. Manusia tersebut tak menghargai wiji aji (bibit unggul) yang diamanahkan kepadanya. Ibarat orang menanam padi, kalau bibitnya unggul tetapi ditanam disembarang tempat, tentu hasilnya akan mengecewakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;"><span> </span>Berarti hubungan seksual yang tidak memperhatikan budi pekerti luhur empan papan (tahu situasi dan kondisi), akan berakibat fatal. Manusia akan bebas dari semua kekotoran dan kecelakaan itu harus diruwat. Pada saat meruwat digunakan Rajah kalacakra. Rajah berarti tulisan, kala artinya waktu, dan cakra adalah perputaran. Rajah kalacakra berarti tulisan atau <em>ngelmu</em> tentang perputaran waktu. Orang yang mengetahui perpuataran waktu, berarti akan mempertimbangkan <em>empan papan</em> dalam bersikap dan bertindak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;"><span> </span>Rajah Kalacakra biasanya diucapkan oleh Ki Dalang Kandhabuwana, yang bunyi dan maknanya kurang lebih sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;"><span> </span><em>AUM</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;"><span> </span>Ya maraja jaramaya</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;"><span> </span>Ya marani niramaya</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">Ya silapa palasiya</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">Ya dayudi diyudaya</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">Ya sihama mahasiya</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">Ya siyaca cayasiya</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">Ya midosa sadomiya</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;"><span> </span>Maknanya kurang lebih, wahai orang yang akan berbuat jelek, hilanglah kesaktiannya. Wahai orang yang akan menjadi perusuh, hilanglah kelebihannya, wahai orang yang lapar, berikanlah mereka kenyang. Wahai orang yang miskin, jadikanlah mereka kaya. Wahai orang yang datang menyerang, hilanglah kekuatannya. Wahai orang yang berdosa, hilanglah kekuatannya. Wahai orang yang berdosa, hilangkanlah dosanya. Dari makna demikian, sesungguhnya mantra ruwatan mengandung nilai budi pekerti Jawa yang luar biasa. Budi pekerti tersebut menghendaki agar seseorang berwatak dan bersikap: berbuat baik kepada sesama dan bersedialah menjadi penolong orang lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">by Susvi Tantoro, Teknisi Labdik Sosantro<br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosantro.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosantro.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosantro.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosantro.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sosantro.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sosantro.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sosantro.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sosantro.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosantro.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosantro.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosantro.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosantro.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosantro.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosantro.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosantro.wordpress.com&amp;blog=1256516&amp;post=21&amp;subd=sosantro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/02/ruwatan-mengendalikan-kala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3886530471af1025bb6ba2f845610e54?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sosantro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/lukisan_011.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">lukisan_011</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makna di Balik Ruwatan</title>
		<link>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/02/makna-di-balik-ruwatan/</link>
		<comments>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/02/makna-di-balik-ruwatan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 06:41:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sosantro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosantro.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Istilah “modern” perlu ditegaskan di sini bukan dalam pengertian “kebarat-baratan”. Modern disini tetap terintegrasi dengan sumber dasar kebudayaan Indonesia di Jawa pada khususnya. Dengan demikian pandangan-pandangan masyarakat yang asli tetap akan terangkat ke dalam kesadaran kita sebagai tantangan. Usaha untuk menghindari dan menjauhkan diri dari kekacauan dan gangguan kejahatan, seseorang harus belajar dan mencari ilmu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosantro.wordpress.com&amp;blog=1256516&amp;post=14&amp;subd=sosantro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;color:windowtext;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-16" title="dalang_timbul1" src="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/dalang_timbul1.jpg?w=128&#038;h=90" alt="dalang_timbul1" width="128" height="90" />I</span><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">stilah “modern” perlu ditegaskan di sini bukan dalam pengertian “kebarat-baratan”. Modern disini tetap terintegrasi dengan sumber dasar kebudayaan Indonesia di Jawa pada khususnya. Dengan demikian pandangan-pandangan masyarakat yang asli tetap akan terangkat ke dalam kesadaran kita sebagai tantangan. Usaha untuk menghindari dan menjauhkan diri dari kekacauan dan gangguan kejahatan, seseorang harus belajar dan mencari ilmu tentang rahasia kehidupan dunia melalui kearifan dan kebaikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">Berbicara mengenai belajar dan mencari ilmu mempunyai kaitan<span> </span>dengan dunia pendidikan. Demikian pula dengan ruwatan, sebenarnya adalah identik dengan arti pendidikan atau dengan kata lain, ruwatan bisa diganti dengan pendidikan. Maksudnya, jika seseorang mampu mendidik anak-anaknya, entah itu pandawa, tunggal atau entah yang lain lagi secara tepat dan benar sejak kecil sampai dewasa hingga memiliki kearifan dan kebajikan, maka anak itu akan terawat dari sukerta. Apakah itu berarti sudah tidak perlu lagi mengadakan <em>ruwatan</em> apabila seseorang itu telah mendidik anaknya dengan benar? Bagaimanapun juga ruwatan adalah budaya bangsa sendiri, jadi tidak salah bila kita perlu untuk melestarikannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;"><span id="more-14"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">Ngruwat</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;"> dipandang dari segi pendidikan mempunyai dua sisi pandang, yaitu dari sisi secara horisontal dan sisi vertikal. Secara horisontal ngruwat adalah pendidikan yang sifatnya praktis. Jadi lewat upacara itu seseorang bisa mengambil inti sari “nilai moral” yang dikandung di dalamnya. Dalam lakon <em>Murwakala</em> banyak sekali ajaran-ajaran maupun nasihat-nasihat dapat disampaikan pada masyarakat, terutama yang berhubungan dengan sikap harus berhati-hati dan menjaga etika. Peristiwa lahirnya <em>Bathara Kala</em>, memberikan pelajaran pada orang Jawa, bahwa seseorang harus mengerti kedudukannya serta tahu menempatkan dirinya bila akan melakukan sesuatu, serta menggambarkan pada khalayak ramai bahwa betapa buruknya peristiwa pemaksaan seksual atau<span> </span>lebih tepat perzinahan atau pelacuran hingga lahirnya si Jabang bayi. <span> </span>Selain itu, pada lakon Murwakala memberikan pelajaran pada manusia untuk selalu menjaga kesopanan, menjaga nama baik keluarga, bertingkah laku sesuai norma yang terdapat pada masyarakat. Pada upacara ruwatan yang bertepatan dengan acara pernikahan banyak ditekankan pada bagaimana seseorang itu dalam kehidupan berumahtangga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">Pengakuan Bathara Kala terhadap keunggulan dan keluhuran Ki Dalang Kanda Buwana menunjukkan pada lambang sportifitas seseorang. Jujur mengakui keunggulan orang lain dan yang harus dilakukan sejak masa kanak-kanak. Sedangkan pengakuan Bethara Kala pada Ki Dalang Kanda Buwana sebagai ayahnya, adalah penggambaran pada lambang kedisiplinan, dalam arti kata, segala kehendak Ki Dalang akan selalu dituruti (disiplin pada segala janji yang telah diucapkan). Sebenarnya tidak semua Bathara Kala dikatakan/dicap negatip, sebab adanya sikap mau me-ngakui dan mentaati janji, adalah sudah merupakan suatu sikap yang dijunjung pada masyarakat Jawa. Namun karena Bathara Kala kurang dapat membawa diri sebagai keturunan Bathara yang baik-haus darah manusia, tidak dapat mengontrol diri dan kasar serta ancaman-ancamannya, membuat manusia jadi takut, maka kelakuan Bathara Kala cenderung dinilai buruk dan kejam oleh masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">Secara vertikal, ngruwat menampakkan perbedaannya dengan pendidikan, yakni bahwa ngruwat bersifat religio seremonial yang mengandung daya kekuatan sakral yang menyatukan manusia dengan Tuhannya.Inilah yang menimbulkan dampak psikologis bagi yang percaya setelah menjalani ruwatan. Ia merasa tentram, aman dan mempertebal rasa percaya dirinya. Lain bagi seseorang yang tidak mempercayainya. Inilah yang menjadikan perbedaannya pada masing-masing orang. Pengetahuan serta kemampuan Ki Dalang untuk menerangkan rahasia kehidupan itu, membuat sifat fatalistik dari masyarakat Jawa, yaitu me-nyerahkan segala urusan penyelenggaraan hajat meruwat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">Melalui sarana upacara ruwatan itu seseorang bisa mengambil inti sari “nilai-nilai moral” yang dikandung di dalamnya. Hanya saja pada ke-nyataannya berapa persenkah orang-orang pada jaman sekarang yang benar-benar memperhatikan pendidikan. Gejala menurunnya moralitas kini sudah menjamur di mana-mana. Ini berarti dunia pendidikan mengalami kemelut krisis. Jadi, meskipun pendidikan sifatnya praktis, namun kenyataannya masih banyak yang belum mampu mempraktikkannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:103%;font-family:&quot;">by Indrijati Soerjasih, Teknisi Labdik Sosantro<br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosantro.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosantro.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosantro.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosantro.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sosantro.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sosantro.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sosantro.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sosantro.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosantro.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosantro.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosantro.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosantro.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosantro.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosantro.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosantro.wordpress.com&amp;blog=1256516&amp;post=14&amp;subd=sosantro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/02/makna-di-balik-ruwatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3886530471af1025bb6ba2f845610e54?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sosantro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/dalang_timbul1.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">dalang_timbul1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masalah-Masalah Sosial</title>
		<link>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/02/masalah-masalah-sosial/</link>
		<comments>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/02/masalah-masalah-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 06:13:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sosantro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosantro.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[A. Pendahuluan Kehidupan masyarakat yang seimbang berarti kehidupan yang berlangsung sesuai dengan nilai dan norma yang ada. Di sini nilai dan norma akan mengatur hubungan antar anggota masyarakat yang ada, baik individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok. Memang norma yang ada pada awalnya terbentuk tanpa suatu kesengajaan. Masyarakat akhirnya sadar akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosantro.wordpress.com&amp;blog=1256516&amp;post=9&amp;subd=sosantro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-left:21.3pt;text-align:justify;text-indent:-21.3pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>A.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pendahuluan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kehidupan masyarakat yang seimbang berarti kehidupan yang berlangsung sesuai dengan nilai dan norma yang ada. Di sini nilai dan norma akan mengatur hubungan antar anggota masyarakat yang ada, baik individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok. Memang norma yang ada pada awalnya terbentuk tanpa suatu kesengajaan. Masyarakat akhirnya sadar akan hal itu dan akhirnya dibuat sebagai norma dalam mencapai tujuan bersama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Komponen-komponen dalam masyarakat berjalan sesuai dengan apa yang dikehendaki masyarakat atau tujuan masyarakat itu. Komponen masyarakat meliputi antara lain norma-norma, kelompok sosial, lapisan masyarakat, lembaga-lembaga kemasyarakatan, proses sosial, perubahan sosial dan kebudayaan, serta perwujudannya (Soekanto, 1982:395). Antarkomponen itu saling berhubungan satu sama lain dan memiliki saling ketergantungan. Maka ketidakikutsertaan salah satu komponen akan menyebabkan goncangan-goncangan dalam masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Misalnya pengkajian dalam bidang ekonomi. Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya diperlukan norma-norma jual-beli misalnya, maka bila menginginkan makanan harus beli dan membeli dengan pakai uang. Di sini terdapat norma jual beli. Ada kelompok-kelompok pedagang. Lapisan masyarakat yang ada adalah adanya pedagang besar dan ada pedagang kecil. Antara pedagang bermodal besar dan bermodal kecil memiliki aturan-aturan tersendiri dalam pemberian keuntungan dalam penjualan atau pembelian partai besar, misalnya. Semua komponen itu bergerak dalam koridor memenuhi kebutuhan ekonomi yang semuanya berjalan sesuai aturan yang ada. Namun bergeraknya masyarakat ekonomi tersebut terkadang menimbulkan suatu perubahan dalam beberapa aspek kehidupan. Contohnya dulu orang berjualan membawa barang dihadapannya, namun sekarang hanya melalui contoh-contoh dalam suatu gambar saja sudah bisa terjadi transaksi jual beli. Namun apabila kegiatan perekonomian tersebut terjadi benturan atau goncangan akibat tidak berfungsinya sebagian komponen akan menimbulkan gejala-gejala sosial.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span id="more-9"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span> </span>Gejala sosial yang tidak dikehendaki oleh masyarakat inilah yang dinamakan masalah sosial. Dinamakan masalah karena dapat mengganggu kelanggengan dalam masyarakat. Hal ini karena menyangkut hubungan antarmanusia dan dalam kerangka bagian-bagian kebudayaan yang normatif. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:16.8pt;text-align:justify;text-indent:-16.1pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>B.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pengertian Masalah Sosial</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Ada</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> sebagian masyarakat merasa rancu dalam mengartikan antara masalah sosial dan problema sosial. Masalah sosial menyangkut analisis tentang macam-macam gejala kehidupan masyarakat. Sedangkan problema sosial meneliti gejala-gejala abnormal masyarakat dengan maksud memperbaiki atau bahkan menghilangkannya (Soekanto, 1982:397). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kemudian bagaimana dengan patologi sosial? Kartini Kartono (2005:1-2) memberikan perbedaan pengertian antara patologi sosial dengan masalah sosial. Patologi sosial merupakan tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, pola kesederhanaan, moral, hak milik, solidaritas kekeluargaan, hidup rukun bertetangga, disiplin, kebaikan, dan hukum formal. Sedang masalah sosial merupakan tingkah laku yang dianggap sebagai tidak cocok, melanggar norma dan adat-istiadat, atau tidak terintegrasi dengan tingkah laku umum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dari dua tokoh di atas, maka masalah sosial dapat disimpulkan sebagai<span style="color:blue;"> </span><span style="color:black;">kondisi yang tidak diinginkan masyarakat karena melanggar nilai dan norma sehingga tidak terintegrasi dengan tingkah laku umum.<span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:16.8pt;text-align:justify;text-indent:-16.8pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>C.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Klasifikasi dan Penyebab Masalah Sosial</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Setiap anggota masyarakat memiliki norma dalam memenuhi setiap kebutuhan, baik fisik (ekonomi dan kesehatan), psikis, maupun penyesuaian diri individu atau kelompok sosial (kebudayaan). Apabila norma dari setiap kebutuhan tersebut ada penyimpangan atau abnormal, maka akan menimbulkan masalah sosial. Oleh karena itu masalah sosial dalam masyarakat dapat diklasifikasikan dalam beberapa faktor, yaitu :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">ekonomis : kemiskinan, pengangguran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">biologis : penyakit</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">psikologis : penyakit syaraf, bunuh diri, disorganisasi jiwa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">kebudayaan : perceraian, kejahatan, kenakalan anak-anak, konflik ras dan agama, pelacuran, penggunaan napza</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Adapun pengklasifikasian terhadap masalah sosial ini tidaklah mutlak masuk ke salah satu klasifikasi, adakalanya satu masalah sosial dapat diklasifikasikan lebih dari satu klasifikasi. Misalnya kejahatan dapat bersumber dari ketidakmampuan dalam ekonomi sehingga masuk klasifikasi ekonomi atau karena pengaruh lingkungan sekitar, sehingga kejahatan diklasifikasikan dalam kebudayaan. Misalnya orang yang dipenjara karena mencopet untuk menyambung hidup, namun setelah lepas dari penjara menjadi perampok, karena ia bergaul dengan para perampok ketika di penjara. Dari sini maka ia dapat diklasifikasikan sebagai kejahatan kebudayaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span> </span>Sebab-sebab timbulnya masalah sosial dapat dibedakan dalam empat hal, yaitu :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">warisan fisik artinya masalah sosial timbul karena adanya pengurangan atau pembatasan sumber alam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">warisan biologis, yaitu timbulnya masalah sosial mencakup persoalan-persoalan penduduk yaitu pesatnya jumlah manusia (antara lain: bertambah atau berkurangnya penduduk, pembatasan kelahiran, migrasi).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">warisan sosial, yaitu masalah sosial yang meliputi depresi, pengangguran, hubungan minoritas dan mayoritas, pendidikan, politik, pelaksanaan hukum, agama, pengisian waktu-waktu luang, kesehatan masyarakat, dan lain-lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">kebijaksanaan sosial, yaitu masalah sosial yang meliputi perencanaan ekonomi, perencanaan politik, dan lain-lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Seperti dalam pengklasifikasian, maka dalam menggolongkan masalah sosial berdasarkan sebab-sebab timbulnya suatu masalah tidak mutlak dari satu hal saja, namun dapat disebabkan lebih dari satu hal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>D.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Beberapa Masalah Sosial yang Menonjol</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> sebagai negara berkembang tidak luput dari berbagai masalah sosial yang muncul seperti kebanyakan negara berkembang lainnya. Namun manakah masalah sosial yang utama setiap negara memiliki perbedaan. Hal ini karena nilai dan norma yang berkembang antarnegara juga berbeda. Adapun beberapa masalah sosial yang mendapat perhatian lebih dalam masyarakat Indonesia antara lain: pengangguran, dis-organisasi keluarga, kriminalitas/kejahatan, bunuh diri, perceraian, konflik antar ras dan agama, kemiskinan, pelacuran, kenakalan anak-anak, penggunaan napza, korupsi, masalah lingkungan hidup, dan masalah penduduk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Berikut ini akan dipaparkan beberapa dari masalah sosial yang muncul tersebut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kriminalitas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kehidupan dalam masyarakat tidak pernah ada penyesuaian (conform) yang sempurna, akan tetapi selalu ditandai adanya penyimpangan atau konflik. Begitupun dengan kriminalitas tumbuh disebabkan oleh adanya berbagai ketimpangan sosial, yaitu adanya gejala-gejala sosial, seperti krisis ekonomi, keinginan yang tidak tersalur, tekanan mental, dendam, dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Tindakan kriminal banyak terjadi pada masyarakat yang tergolong sedang berubah, terutama pada masyarakat kota yang sering mengalami berbagai tekanan. Tindakan kriminal tidak tumbuh dari dalam diri manusia itu sendiri, melainkan juga tekanan-tekanan dari luar, misalnya pengaruh pergaulan kerja, pergaulan dalam lingkungan masyarakat tertentu, yang semuanya mempunyai unsur-unsur tindakan kriminal. Jika perilaku kejahatan terus bertambah, maka dapat menimbulkan keresahan dalam masyarakat, khususnya masyarakat yang langsung terkena akibat kejahatan dan masyarakat yang berada di lingkungan sekitarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kemiskinan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Arti kemiskinan menurut Emil Salim dalam Abdulsyani (2002:190) sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Dan orang akan dikatakan di bawah garis kemiskinan bila pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi standar kebutuhan hidup yang pokok (makan, pakaian, tempat tinggal, dan lain-lain). Sedangkan Soetrisno R. (2001:20) mendefinisikan kemiskinan menyangkut kemungkinan atau probabilitas orang atau k00eluarga miskin untuk melangsungkan dan mengembangkan kegiatan perekonomian dalam upaya meningkatkan taraf kehidupannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kemiskinan banyak ditakuti orang, karena kemiskinan sebagai hal yang paling buruk bagi manusia dalam kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. Banyak jalan keluar yang ditempuh menjadi bertambah tak beraturan, berlomba secara tidak wajar, dan masing-masing sibuk gali lubang tutup lubang. Antara system nilai, norma hukum, dan perilaku sosial dengan system perekonomian masyarakat menjadi kusut. Kemiskinan akan lebih parah apabila kemiskinan itu merupakan sigma dari rendahnya ekonomi dan buruknya nilai moral. Sementara ada golongan lain yang justru masih berusaha memerasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">David C. Karten dalam Abdulsyani (2002:191) berpendapat ada kebutuhan pokok yang sulit untuk dipenuhi kaum miskin, yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span><span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Banyak orang miskin yang tidak mempunyai kekayaan produktif selain kekuatan jasmani mereka. Berkembang dan terpeliharanya kekayaan tergantung pada semakin baiknya kesempatan untuk memperoleh pelayanan umum, seperti pendidikan, pelayanan kesehatan, dan penyediaan air yang pada umumnya tidak tersedia bagi mereka yang justru paling membutuhkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span><span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Peningkatan pendapatan kaum miskin kemungkinan tidak akan memperbaiki taraf hidup mereka apabila barang dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pendapatan mereka tidak tersedia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.9pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bentuk atau jenis kemiskinan berdasarkan akar penyebabnya ada dua (Soetrisno, 2001:21), yaitu :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kemiskinan natural/alamiah, yaitu kemiskinan yang timbul akibat terbatasnya jumlah sumber daya dan karena tingkat perkembangan teknologi yang sangat rendah. Sehingga dalam masyarakat ini tidak akan ada kelompok atau individu yang lebih miskin dari yang lain. Jika ada perbedaan kekayaan dalam masyarakat, dampak perbedaan tersebut akan diperlunak atau dieliminasi oleh adanya pranata-pranata tradisional. Misalnya hubungan patron-klien, jiwa gotong royong, dan sejenisnya berfungsi untuk meredam timbulnya kecemburuan sosial.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kemiskinan struktural atau buatan, merupakan kemiskinan yang terjadi karena struktur sosial yang ada membuat anggota atau kelompok masyarakat tidak menguasai sarana ekonomi dan fasilitas-fasilitas secara merata. Bahkan Selo Soemardjan mendefinisikan kemiskinan struktural sebagai kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat, karena struktur sosial masyarakat itu tidak dapat menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka. Kemiskinan struktural biasanya terjadi dalam masyarakat yang ada perbedaan tajam antara kaya dan miskin. Ciri utama kemiskinan struktural adalah :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>1)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sangat lamban atau tidak adanya mobilitas sosial vertikal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>2)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Adanya ketergantungan yang kuat pihak miskin terhadap kelas sosial ekonomi di atasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22.95pt;text-align:justify;text-indent:31.05pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Adanya pemahaman kemiskinan muncul bukan sebagai sebab, tetapi lebih sebagai akibat adanya situasi ketidakadilan, ketimpangan serta ketergantungan dalam struktur masyarakat. Kondisi ini diistilahkan sebagai perangkap kemiskinan yang terdiri dari lima unsur, yaitu kemiskinan itu sendiri, kelemahan fisik, keterasingan, kerentanan, dan ketidakberdayaan. Kelima unsur ini saling berkaitan dan merupakan jalinan interaksi yang timbal balik, sehingga merupakan kondisi yang berbahaya dan mematikan peluang hidup masyarakat miskin. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22.95pt;text-align:justify;text-indent:31.05pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dari lima unsur itu yang perlu mendapat perhatian adalah kerentanan dan ketidakberdayaan. Kerentanan merupakan tidak memilikinya kesiapan baik mental atau materiil dalam menghadapi situasi sulit yang dihadapi. Akibatnya mereka menjual harta benda dan asset produksinya sehingga menjadi makin rentan dan tidak berdaya. Sedang ketidakberdayaan merupakan kondisi miskin yang ditipu dan sering dijadikan objek penurunan bantuan dimana si miskin sendiri tidak memperoleh bantuan yang ada (minimal tidak sebanyak yang diprogramkan oleh orang atau lembaga pencari dana).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.9pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pelacuran </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pelacuran merupakan masalah sosial yang berpengaruh sangat besar terhadap perkembangan moral. Kondisi ini sangat mengkawatirkan terhadap masalah bagi keluarga dan generasi muda, serta akan semakin menjalarnya penyakit kelamin. Penyakit kelamin ini terasa semakin menjalar akhir-akhir ini karena semakin banyaknya korban penyakit HIV/AIDS yang belum ditemukan obatnya. Pelacuran berkembang karena dorongan tekanan-tekanan sosial, keputusasaan, kehilangan pekerjaan, pelarian bagi yang putus cinta, dan semakin banyaknya orang yang menggandrunginya. Hal ini ditandai oleh adanya fasilitas lokasi secara khusus, meski beralasan daripada berkeliaran di jalan-jalan, di stasiun kereta api, di sekitar kantor polisi, atau di tempat-tempat umum yang terlihat sepi. Pada masa sekarang angin pelacuran semakin bias dengan penyebutan nama dengan pekerja seks komersil (PSK) dibanding wanita tuna susila (WTS). Dari adanya nama ini, pelacur atau WTS yang terkesan suatu penyimpangan perilaku, berubah pada posisi yang lebih baik kalo tidak bisa dibilang lebih terhormat dengan sebutan PSK. Sebutan PSK memposisikan mereka sebagai bagian dari salah satu profesi dalam masyarakat. Bila nilai-nilai moral dan keterlanjuran itu semakin terpatri dalam jiwa para pelaku ditambah adanya anggapan bahwa pekerjaan PSK mudah dilakukan, tidak memerlukan keterampilan khusus, dan banyak mendatangkan uang dengan mudah, maka perkembangan pelacuran semakin sulit diberantas. Meski mereka ditangkap dan diberikan keterampilan suatu usaha, maka setelah menjalani hukuman, mereka akan kembali kepada kegiatan pelacuran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>d.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kenakalan anak-anak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kenakalan anak-anak Indonesia dalam bentuk antara lain tergabungnya sekelompok anak muda dalam suatu ikatan yang mempunyai tingkah laku yang kurang atau tidak disukai oleh masyarakat pada umumnya, misalnya terbentuknya geng-geng. Kenakalan yang lain adalah adanya tawuran pelajar, pencurian, perampokan, pelanggaran susila, penggunaan obat-obat terlarang, ngebut di jalanan tanpa mengindahkan rambu-rambu lalu lintas, mengedarkan gambar-gambar dan CD pornografi..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>e.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Korupsi </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Definisi korupsi adalah tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeruk keuntungan pribadi, merugikan kepentingan umum dan negara (Kartono, 2005:90). Korupsi merupakan penyakit masyarakat yang telah berlangsung lama di bumi Indonesia. Bahkan ke masyarakat yang paling bawah sekalipun telah terjangkit pernyakit korupsi ini. Korupsi sebagai produk dari sikap hidup satu kelompok masyarakat, yang memakai uang sebagai standar kebenaran dan sebagai kekuasaan mutlak. Namun akibat yang ditimbulkan dari korupsi banyak terkena pada masyarakat lapisan bawah. Akibat maraknya korupsi maka era pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono sampai membuat lembaga independen yang bernama Komisi Pemberantas Korupsi. Memang telah banyak dipublikasikan hasil-hasil temuan korupsi yang dilakukan oleh oknum perseorangan ataupun lembaga, namun akhir dari hasil temuan itu belum banyak disaksikan sanksi bagi pelakunya. Hal ini karena lamanya proses hukum yang memproses mereka, sehingga terkadang kontrol dari masyarakat juga semakin lemah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Adapun hal-hal yang dapat dikategorikan sebagai tindakan korupsi adalah penggelapan, penyogokan, penyuapan, kecerobohan administrasi dengan intensi mencuri kekayaan negara, pemerasan, penggunaan kekuatan hukum dan atau kekuatan senjata untuk imbalan dan upah materiil, barter kekuasaan politik dengan sejumlah uang, penekanan kontrak oleh kawan sepermainan untuk mendapatkan komisi besar bagi diri sendiri dan kelompok dalam, penjualan pengampunan pada oknum yang melakukan tindak pidana agar tidak dituntut oleh yang berwajib dengan imbalan uang, eksploitasi dan pemerasan formal oleh pegawai dan pejabat resmi, dan lain-lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>f.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Masalah penduduk </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pertambahan penduduk dapat menjadi penghambat dalam pembangunan, terutama jika pertambahannya tidak dapat dikontrol secara efektif. Pertambahan penduduk tidak hanya dirasakan oleh masyarakat pada daerah-daerah tertentu, tetapi dirasakan oleh semua masyarakat dalam satu negara. Akibat pertambahan penduduk akan mempengaruhi kondisi yang serba tidak merata tentang sumber-sumber penghidupan masyarakat yang semakin terbatas. Di Indonesia telah melakukan usaha dalam rangka pengaturan pertambahan penduduk yaitu dengan slogan dua anak cukup melalui program keluarga berencana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>g.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dis-organisasi keluarga</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dis-organisasi keluarga merupakan perpecahan keluarga sebagai suatu unit, karena anggota-anggotanya gagal memenuhi kewajiban yang sesuai dengan peranan sosialnya. Adapun bentuk-bentuk dis-organisasi keluarga antara lain :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Unit keluarga yang tidak lengkap karena hubungan di luar perkawinan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Putusnya perkawinan sebab perceraian, perpisahan meja dan tempat tidur, dan lain-lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Adanya kekurangan komunikasi antara anggota-anggotanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>d.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Krisis keluarga, oleh karena salah satu yang bertindak sebagai kepala keluarga di luar kemampuannya sendiri meninggalkan rumah tangga, bisa karena meninggal dunia, dihukum, atau peperangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>e.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Krisis keluarga yang disebabkan oleh faktor intern, misalnya terganggunya keseimbangan jiwa salah satu anggota keluarga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dis-organisasi keluarga pada masyarakat yang sederhana bisa terjadi karena suami sebagai kepala keluarga gagal memenuhi kebutuhan-kebutuhan primer keluarga, atau suami menikah lebih dari satu. Namun pada umumnya disebabkan oleh kesulitan-kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan kebudayaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sedangkan disorganisasi keluarga pada masyarakat yang kompleks dapat terjadi karena konflik peranan sosial atas dasar perbedaan ras, agama, atau faktor sosial ekonomis. Disamping itu adanya dis-organisasi keluarga bisa disebabkan tidak adanya keseimbangan dari perubahan-perubahan unsur-unsur warisan sosial. Misalnya keluarga dari latar belakang agraris berpola kehidupan memproduksi sendiri kebutuhan-kebutuhan hidupnya, melakukan sendiri pendidikan terhadap anak-anaknya. Namun seiring masuknya industrialisasi pada masyarakat agraris, maka terjadi perubahan misalnya dulu tanggung jawab kebutuhan keluarga ditanggung seorang suami sendiri, maka sekarang bila terjadi kekurangan dalam keluarga istri ikut membantu mencari tambahan penghasilan, pendidikan anak juga diserahkan kepada lembaga-lembaga pendidikan. Jadi dis-organisasi keluarga pada masyarakat kompleks disebabkan oleh keterlambatan dalam menyesuaikan diri dengan situasi sosial-ekonomi yang baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>h.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Masalah lingkungan hidup</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Lingkungan hidup meliputi hal-hal yang ditimbulkan oleh interaksi antara manusia sebagai unsur yang paling dominan (disamping hewan dan tumbuhan) dengan lingkungan. Manusia memiliki kemampuan untuk bertambah secara kuantitatif dan kualitatif berkat akal pikirannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Interaksi manusia dengan lingkungan dapat menimbulkan perubahan-perubahan. Namun perubahan tersebut tidak menimbulkan masalah lingkungan jika hubungan keselarasan antara berbagai zat, benda, dan organisme itu tidak terganggu. Manusia karena desakan kebutuhan dan kurangnya kesadaran akan lingkungan hidup dapat menyebabkan terganggunya keserasian antara lingkungan hidup dengan perilaku manusia, maka kualitas lingkungan hidup akan semakin rusak. Misalnya pencemaran air oleh zat kimia, penebangan kayu di hutan, pembuangan sampah yang tidak teratur, polusi udara dari knalpot kendaraaan, dan lain-lain. Akibatna timbul kerusakan lingkungan hidup dan akan menjadi bumerang bagi kehidupan manusia itu sendiri, yaitu terjadi kekeringan, kebakaran, banjir, timbulnya berbagai penyakit baru, dan lain-lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">DAFTAR PUSTAKA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Abdulsyani, 2002. <em>Sosiologi, Skematika, Teori, dan Terapan</em>. Jakarta : Bumi Aksara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kartono, Kartini. 2005. <em>Patologi Sosial.</em> Jakarta : Raja Grafindo Persada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Soekanto, Soerjono. 1982. <em>Sosiologi Suatu Pengantar</em> (Edisi Baru Keempat 1990). Jakarta : Raja Grafindo Persada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Soetrisno. R. 2001. <em>Pemberdayaan Masyarakat dan Upaya Pembebasan Kemiskinan.</em> Yogyakarta : Philosophy Press.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Usman, Sunyoto. 2004. <em>Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat</em>. Yogyakarta: Pustaka Pelajar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki">http://id.wikipedia.org/wiki</a>. <em>Kemiskinan</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:right;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ditulis oleh: Istiqomah, S.Sos., Teknisi Pendidikan Labdik Sosantro<br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosantro.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosantro.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosantro.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosantro.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sosantro.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sosantro.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sosantro.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sosantro.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosantro.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosantro.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosantro.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosantro.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosantro.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosantro.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosantro.wordpress.com&amp;blog=1256516&amp;post=9&amp;subd=sosantro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/02/masalah-masalah-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3886530471af1025bb6ba2f845610e54?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sosantro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Datang</title>
		<link>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/02/selamat-datang/</link>
		<comments>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/02/selamat-datang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 05:58:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sosantro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosantro.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Di awal tahun 2009 ini Laboratorium Pendidikan Sosiologi dan Antropologi PPPPTK PKn dan IPS Malang merilis blog. Wahana ini nantinya akan berisi program-program labdik, berita labdik, berita sosiologi dan antropologi, info diklat, serta pernak-pernik tentang catatan sosiologi dan antropologi. Selamat Datang dan Selamat Bergabung!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosantro.wordpress.com&amp;blog=1256516&amp;post=4&amp;subd=sosantro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-5" title="guesthouse2" src="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/guesthouse2.jpg?w=128&#038;h=96" alt="guesthouse2" width="128" height="96" />Di awal tahun 2009 ini Laboratorium Pendidikan Sosiologi dan Antropologi PPPPTK PKn dan IPS Malang merilis blog. Wahana ini nantinya akan berisi program-program labdik, berita labdik, berita sosiologi dan antropologi, info diklat, serta pernak-pernik tentang catatan sosiologi dan antropologi.<span> </span>Selamat Datang dan Selamat Bergabung!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosantro.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosantro.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosantro.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosantro.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sosantro.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sosantro.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sosantro.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sosantro.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosantro.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosantro.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosantro.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosantro.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosantro.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosantro.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosantro.wordpress.com&amp;blog=1256516&amp;post=4&amp;subd=sosantro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosantro.wordpress.com/2009/02/02/selamat-datang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3886530471af1025bb6ba2f845610e54?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sosantro</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sosantro.files.wordpress.com/2009/02/guesthouse2.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">guesthouse2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://sosantro.wordpress.com/2007/06/19/hello-world/</link>
		<comments>http://sosantro.wordpress.com/2007/06/19/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jun 2007 01:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sosantro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosantro.wordpress.com&amp;blog=1256516&amp;post=1&amp;subd=sosantro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sosantro.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sosantro.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosantro.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosantro.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosantro.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosantro.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sosantro.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sosantro.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sosantro.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sosantro.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosantro.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosantro.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosantro.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosantro.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosantro.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosantro.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosantro.wordpress.com&amp;blog=1256516&amp;post=1&amp;subd=sosantro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosantro.wordpress.com/2007/06/19/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3886530471af1025bb6ba2f845610e54?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">sosantro</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
