Makna di Balik Ruwatan

dalang_timbul1Istilah “modern” perlu ditegaskan di sini bukan dalam pengertian “kebarat-baratan”. Modern disini tetap terintegrasi dengan sumber dasar kebudayaan Indonesia di Jawa pada khususnya. Dengan demikian pandangan-pandangan masyarakat yang asli tetap akan terangkat ke dalam kesadaran kita sebagai tantangan. Usaha untuk menghindari dan menjauhkan diri dari kekacauan dan gangguan kejahatan, seseorang harus belajar dan mencari ilmu tentang rahasia kehidupan dunia melalui kearifan dan kebaikan.

Berbicara mengenai belajar dan mencari ilmu mempunyai kaitan dengan dunia pendidikan. Demikian pula dengan ruwatan, sebenarnya adalah identik dengan arti pendidikan atau dengan kata lain, ruwatan bisa diganti dengan pendidikan. Maksudnya, jika seseorang mampu mendidik anak-anaknya, entah itu pandawa, tunggal atau entah yang lain lagi secara tepat dan benar sejak kecil sampai dewasa hingga memiliki kearifan dan kebajikan, maka anak itu akan terawat dari sukerta. Apakah itu berarti sudah tidak perlu lagi mengadakan ruwatan apabila seseorang itu telah mendidik anaknya dengan benar? Bagaimanapun juga ruwatan adalah budaya bangsa sendiri, jadi tidak salah bila kita perlu untuk melestarikannya.


Ngruwat dipandang dari segi pendidikan mempunyai dua sisi pandang, yaitu dari sisi secara horisontal dan sisi vertikal. Secara horisontal ngruwat adalah pendidikan yang sifatnya praktis. Jadi lewat upacara itu seseorang bisa mengambil inti sari “nilai moral” yang dikandung di dalamnya. Dalam lakon Murwakala banyak sekali ajaran-ajaran maupun nasihat-nasihat dapat disampaikan pada masyarakat, terutama yang berhubungan dengan sikap harus berhati-hati dan menjaga etika. Peristiwa lahirnya Bathara Kala, memberikan pelajaran pada orang Jawa, bahwa seseorang harus mengerti kedudukannya serta tahu menempatkan dirinya bila akan melakukan sesuatu, serta menggambarkan pada khalayak ramai bahwa betapa buruknya peristiwa pemaksaan seksual atau lebih tepat perzinahan atau pelacuran hingga lahirnya si Jabang bayi. Selain itu, pada lakon Murwakala memberikan pelajaran pada manusia untuk selalu menjaga kesopanan, menjaga nama baik keluarga, bertingkah laku sesuai norma yang terdapat pada masyarakat. Pada upacara ruwatan yang bertepatan dengan acara pernikahan banyak ditekankan pada bagaimana seseorang itu dalam kehidupan berumahtangga.

Pengakuan Bathara Kala terhadap keunggulan dan keluhuran Ki Dalang Kanda Buwana menunjukkan pada lambang sportifitas seseorang. Jujur mengakui keunggulan orang lain dan yang harus dilakukan sejak masa kanak-kanak. Sedangkan pengakuan Bethara Kala pada Ki Dalang Kanda Buwana sebagai ayahnya, adalah penggambaran pada lambang kedisiplinan, dalam arti kata, segala kehendak Ki Dalang akan selalu dituruti (disiplin pada segala janji yang telah diucapkan). Sebenarnya tidak semua Bathara Kala dikatakan/dicap negatip, sebab adanya sikap mau me-ngakui dan mentaati janji, adalah sudah merupakan suatu sikap yang dijunjung pada masyarakat Jawa. Namun karena Bathara Kala kurang dapat membawa diri sebagai keturunan Bathara yang baik-haus darah manusia, tidak dapat mengontrol diri dan kasar serta ancaman-ancamannya, membuat manusia jadi takut, maka kelakuan Bathara Kala cenderung dinilai buruk dan kejam oleh masyarakat.

Secara vertikal, ngruwat menampakkan perbedaannya dengan pendidikan, yakni bahwa ngruwat bersifat religio seremonial yang mengandung daya kekuatan sakral yang menyatukan manusia dengan Tuhannya.Inilah yang menimbulkan dampak psikologis bagi yang percaya setelah menjalani ruwatan. Ia merasa tentram, aman dan mempertebal rasa percaya dirinya. Lain bagi seseorang yang tidak mempercayainya. Inilah yang menjadikan perbedaannya pada masing-masing orang. Pengetahuan serta kemampuan Ki Dalang untuk menerangkan rahasia kehidupan itu, membuat sifat fatalistik dari masyarakat Jawa, yaitu me-nyerahkan segala urusan penyelenggaraan hajat meruwat.

Melalui sarana upacara ruwatan itu seseorang bisa mengambil inti sari “nilai-nilai moral” yang dikandung di dalamnya. Hanya saja pada ke-nyataannya berapa persenkah orang-orang pada jaman sekarang yang benar-benar memperhatikan pendidikan. Gejala menurunnya moralitas kini sudah menjamur di mana-mana. Ini berarti dunia pendidikan mengalami kemelut krisis. Jadi, meskipun pendidikan sifatnya praktis, namun kenyataannya masih banyak yang belum mampu mempraktikkannya.

by Indrijati Soerjasih, Teknisi Labdik Sosantro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: