Reality Show

Our reality has become experimental. Without destiny , modern man is left with an endless experimentation of himself. (Jean Baudrillard Dust Breeding”)

oa8x0522Beberapa waktu yang lalu seorang teman mengirim sebuah e-mail tentang kekhawatiran akan banyaknya tayangan reality show di televisi. Perasaan yang dikatakan tidak berlebihan karena pada faktanya televisi saat ini dibanjiri dengan tayangan model tersebut. Mulai dari memberi hadiah uang pada si miskin yang kemudian diberi waktu beberapa jam untuk membelanjakan uang tersebut (rupanya si produser ingin menguji adagiumnya Voltaire : “dalam urusan uang semua agama –baca: orang– adalah sama”), perlombaan terhadap siapa yang lebih banyak ditolong: “gadis cantik” dan seorang “ibu tua” (rupanya produser malu untuk bilang perempuan jelek), para perempuan cantik yang berebut untuk mendapatkan cinta si “Joe” yang seorang “millionaire” (produser ingin bilang, semua perempuan sama saja: “moto bensin”), perlombaan untuk mendapatkan sebuah rumah (pesertanya mulai dari para pembantu hingga eksekutif muda), dan yang terbaru: menjadi pembantu dari seorang artis dengan bayaran 10 juta perbulan (sama dengan 10 bulan kerja PNS golongan III A dengan lama kerja 0 thn) ; lalu setelah bosan model kontes-kontes mencari penyanyi dan pelawak berbakat dibuat kontes untuk mencari dai berbakat dengan format yang sama (Judulnya menjadi “Titian Dai”. Menarik juga kenapa tidak memakai judul “Dai Idol”? Mungkin karena produser tahu bahwa “idol” = “memberhalakan” dan hal tersebut sangat dilarang dalam Islam).


“Reality” sebenarnya sesuatu yang sangat kompleks yang ketika diwujudkan dalam sebuah tayangan secara sontak akan terdegradasikan menjadi sebuah imaji sederhana. Menjadi sederhana karena dengan dalih tidak sesuai dengan format acara banyak dari unsur-unsur “tak penting” dari realitas yang tak terekam. Meski demikian menurut Guy Debord (dalam Society of The Spectacle), ketika dunia nyata berubah dalam sebuah imaji sederhana, maka imaji sederhana tadi akan menjadi “real being” dan merupakan motivasi efektif perilaku hipnotis. Dengan kata lain justru disitulah kekuatan dari tayangan model tersebut yaitu dalam “menyihir” orang. Sehingga orang dengan “sukarela” berebut untuk berpartisipasi di dalamnya.

Imaji sendiri mempunyai tiga tingkatan: 1)refleksi dari sebuah realitas dasar, 2) menopengi dan me-nyamarkan sebuah realitas dasar, 3) menopengi “ketidakhadiran” sebuah realitas dasar, dan 4) tidak ada hubu-ngan dengan sebuah realitas apapun (sebuah simulacra). Apakah tayangan reality show merupakan sebuah imaji pada tingkat pertama? Bukankah dalam tayangan tersebut terdapat unsur komersialisasi realitas? Komersialisasi yang menopengi realitas? Kita juga tahu apa yang kita tonton itu adalah sesuatu yang “lumrah” disekitar kita. Sesuatu yang bersifat “banal”. Mungkin orang sudah menganggap peristiwa-peristiwa seperti perang, pemerkosaan dsb adalah sesuatu yang “banal” sehingga ketika ada tayangan yang mengkomersialkan realitas, maka tayangan tersebut sangat disukai.

Yang sangat menyedihkan adalah “mobilisasi” publik untuk menjadi juri. Publik dijadikan pembenaran atas pilihan menang kalah. Publik menjadi sumber kontrol kuasa atas diri seseorang. Mungkin dengan asumsi “athenaian state democracy” – bentuk demokrasi langsung yang idealnya diambil dari jaman Yunani kuno –, sehingga selalu ada klaim moral atas pembenaran tersebut.

Mungkin sekarang adalah jaman di mana segala sesuatunya harus “tampak” (visible), baik karakter kita, ucapan kita dst sehingga publik bisa melihat dan menilainya. Tampaknya kebebasan individu secara sukarela harus bertekuk lutut dihadapan otoritarianisme massa. Massa yang memilih lewat sms dan premium call.


Ditulis tahun 2005

oleh Widijanto Judono, Teknisi Labdik Sosantro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: