Ruwatan: Mengendalikan Kala

lukisan_011Telah banyak diketahui bahwa ruwatan adalah tradisi Jawa asli. Ruwatan memuat nilai-nilai budi pekerti luhur yang pantas dijadikan pegangan hidup. Menurut Suwardi Endraswara (Budi Pekerti dalam Budaya Jawa, Hanindita Yogyakarta, 2003), ruwat berarti memperbaiki yang rusak, membersihkan yang cacat, dan mengganti yang tidak baik. Hal ini berarti, bahwa orang yang diruwat ada yang kotor. Hal yang kotor itu dinamakan sukerta.

Sukerta, berarti orang yang cacat, yang lemah, dan tak sempurna. Karena itu orang tersebut harus diruwat, artinya dibersihkan atatu dicuci agar bersih. Orang sukerta tersebut jika tidak diruwat akan menjadi mangsa batara kala. Karenanya, ruwatan juga dinamakan murwakala, artinya murwa (murba) YAKNI MENGENDALIKAN ATAU MENGUASAI KALA (Batara Kala). Kala juga berarti waktu. Jadi menguasai kala berarti mampu memanfaatkan waktu dengan sungguh-sungguh. Orang yang mampu menguasai waktu, berarti akan hidup tenteram.

Dalam tradisi ruwatan, ada beberapa orang yang tergolong sukerta. Orang-orang itu, jika telah diruwat akan bebas dari ancaman kala. Para sukerta itu sangat banyak jumlahnya, lebih dari 50 macam, antara lain sebagai berikut:

1. Orang yang menanak nasi merobohkan dandang (alat penanak nasi).

2. Orang yang mematahkan pipisan (batu gilasan jamu).

3. Mempunyai kebiasaan membakar rambut dan tulang

4. Anak ontang-anting, artinya anak laki-laki tunggal (sendirian)

5. Anak luminting, artinya anak yang lahir tanpa ari-ari.


Demikian beberapa contoh anak-anak sukerta yang seharusnya diruwat. Tentu saja masih banyak lagi anak-anak sukerta yang perlu diruwat dan masing-masing memiliki nilai budi pekerti khusus. Tegasnya, tradisi ruwatan merupakan upaya strategis untuk mencari keselamatan. Apalagi kalau berkiblat pada wasiat yang pernah dikemukakan Sunan Kudus. Sunan Kudus pernah memotong taring Batara Kala dalam kisah pewayangan, agar tidak manakutkan anak-anak. Maksud pemotongan taring ini memuat nilai budipekerti agar kecelakaan yang mungkin timbul pada sukerta dapat teratasi.

Lebih jauh lagi, taring juga merupakan simbol dari nafsu kebuasan. Bayangkan, bukankah hewan-hewan yang memiliki ta-ring dan raksasapun juga mempunyai sifat buas. Lebih dalam lagi, taring tersebut milik Batara Kala yang konon lahir akibat kamasalah. Kamasalah adalah ajaran budi pekerti seksual yang agung. Yakni ketika Batara Guru telah bernafsu kepada Batari Uma, akhirnya tidak mempertimbangkan tempat dan waktu dalam ber-making love Karenanya, lahir Batara Kala. Yang mengerikan lagi, Batara Uma lalu disuruh pergi oleh Batara Guru. Akhirnya sampai di Pasetran Gandamayit bersama Batara Kala. Batara Uma berubah wajah menjadi reseksi bernama Batari Durga dan menjadi isteri Batara Kala.

Hal demikian sebagai akibat kamasalah, sehingga terjadi kerusakan dan berantakan rumah tangga yang tak karuan. Jika seseorang sampai meneteskan kama (sperma) bukan pada tempat dan waktunya yang tepat, berarti tidak menghargai kesucian. Manusia tersebut tak menghargai wiji aji (bibit unggul) yang diamanahkan kepadanya. Ibarat orang menanam padi, kalau bibitnya unggul tetapi ditanam disembarang tempat, tentu hasilnya akan mengecewakan.

Berarti hubungan seksual yang tidak memperhatikan budi pekerti luhur empan papan (tahu situasi dan kondisi), akan berakibat fatal. Manusia akan bebas dari semua kekotoran dan kecelakaan itu harus diruwat. Pada saat meruwat digunakan Rajah kalacakra. Rajah berarti tulisan, kala artinya waktu, dan cakra adalah perputaran. Rajah kalacakra berarti tulisan atau ngelmu tentang perputaran waktu. Orang yang mengetahui perpuataran waktu, berarti akan mempertimbangkan empan papan dalam bersikap dan bertindak.

Rajah Kalacakra biasanya diucapkan oleh Ki Dalang Kandhabuwana, yang bunyi dan maknanya kurang lebih sebagai berikut:

AUM

Ya maraja jaramaya

Ya marani niramaya

Ya silapa palasiya

Ya dayudi diyudaya

Ya sihama mahasiya

Ya siyaca cayasiya

Ya midosa sadomiya

Maknanya kurang lebih, wahai orang yang akan berbuat jelek, hilanglah kesaktiannya. Wahai orang yang akan menjadi perusuh, hilanglah kelebihannya, wahai orang yang lapar, berikanlah mereka kenyang. Wahai orang yang miskin, jadikanlah mereka kaya. Wahai orang yang datang menyerang, hilanglah kekuatannya. Wahai orang yang berdosa, hilanglah kekuatannya. Wahai orang yang berdosa, hilangkanlah dosanya. Dari makna demikian, sesungguhnya mantra ruwatan mengandung nilai budi pekerti Jawa yang luar biasa. Budi pekerti tersebut menghendaki agar seseorang berwatak dan bersikap: berbuat baik kepada sesama dan bersedialah menjadi penolong orang lain.

by Susvi Tantoro, Teknisi Labdik Sosantro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: